Catatan Perjalanan 6 Hari Keliling Sumbar : Makan Siang di Puncak Cemara Sawahlunto

image of 1140x530

Telah tengah hari, hujan juga sudah mereda, matahari yang sedari tadi bersembunyi dibalik awan mulai menampakan dirinya. Kami segera bergegas meninggalkan Museum Goedang Ransoem menuju tengah kota tepatnya di warung makan yang nampak ramai karena memang sedang memasuki jam makan siang.

Kami memesan dua bungkus nasi lengkap dengan lauknya untuk kami makan di Puncak Cemara nantinya.

Dari pusat Kota Sawahlunto ke Puncak Cemara berjarak 6 Km melewati jalan menanjak, ada sesuatu yang unik saat menuju Puncak Cemara yakni di sepanjang tepian jalan terdapat plang – plang bertuliskan Asmaul Husna.

Kami tiba di Puncak Cemara, memarkirkan kendaraan lalu mencari tempat paling asik untuk menikmati santab siang kami.

Santab siang kali ini terasa sangat nikmat karena ditemani oleh angin sejuk yang mengeluarkan bunyi dari balik daun – daun cemara yang meruncing.

Tempatnya asik banget buat makan siang
Tempatnya asik banget buat makan siang
Monumen Kesetiaan ala Sawahlunto, bagi yang gag setia kurungin aja di dalam monumen
Monumen Kesetiaan ala Sawahlunto, bagi yang gag setia kurungin aja di dalam monumen

Selesai perkara perut, saatnya menikmati suasana Puncak Cemara.

Dari Puncak Cemara berada di ketinggian sehingga dari sini Sawahlunto terlihat sangat jelas, rumah – rumah berjejer rapi, besi – besi raksasa yang menyangga lingkaran beton, bekas – bekas pabrik yang ditinggalkan meninggalkan banyak noda karat di dalamnya, pasar, lapangan Ombilin, semuanya terlihat.

Kota Sawahlunto dilihat dari Puncak Cemara
Kota Sawahlunto dilihat dari Puncak Cemara

Melihat Kota Sawahlunto dari Puncak Cemara membuat imajinasi saya melayang – layang, saya membayangkan 100 tahun yang lalu ditempat yang sama ini saya ditemani oleh noni – noni Belanda yang asik menghabiskan waktu petang sembari menyaksikan rona langit menjadi kemerah – merahan.

puncak_cemara_kota_sawahlunto
Hai, ke Sawahlunto yuk,

Di bawah sana terlihat stasiun yang tidak pernah istirahat, para pekerja, lori dan kereta silih berganti mengeluarkan batu bara dan menaruhnya di gerbong – gerbong yang parkir di stasiun untuk kemudian di bawa ke Emma Haven (Teluk Bayur) lalu diangkut menggunakan kapal dan dibawa entah kemana.

Upss, saya terbangun dari hayal, kini saya sedang berada di Sawahlunto pada tahun 2016 dimana kota ini sudah mengganti haluannya dari kota tambang yang mendatangkan buruh tambang menjadi kota wisata yang mengundang wisatawan untuk datang.

About Author

Muhammad Catur Nugraha
Muhammad Catur Nugraha
Sempat bekerja selama 4 tahun sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang kontruksi bangunan lepas pantai. Kecintaanya terhadap kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumbar sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

doli
September 27, 2016
Monumen kesetiaannya unik juga ya mas
jelajahsumbar
September 27, 2016
Unik, bentuknya seperti kurungan, entah apa maksudnya.
September 27, 2016
Disawahlunto ternyata ada monumen kesetian, ala-ala korea gimana gitu,,
jelajahsumbar
September 28, 2016
Jadi gag perlu jauh2 ke Korea dan jangan lupa bawa gembok buat mengikat cinta-nya disana

Leave a Reply

*