Pengembangan Kawasan Petungkriyono Pekalongan Sebagai Destinasi Wisata Alam Unggulan Jawa Tengah

Di Kabupaten Pekalongan atau yang dikenal sebagai bumi legenda batik nusantara, terdapat sebuah kawasan bernama Petungkriyono. Pernah dengar sebelumnya?

Petungkriyono adalah nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Lalu, apa yang spesial disini sehingga hastag #PesonaPetungKriyono sempat menjadi top trending twitter?

Penari menyambut kedatangan para peserta di tugu Petungkriyono

Kecamatan Petungkriyono merupakan daerah pegunungan yang memiliki luas 73,59 Km2 dimana sebagian besar adalah hutan seluas 5.189,507 Ha. Untuk luas pemukimannya hanya 119,652 atau sekitar 16% dari luas keseluruhan, begitu yang saya catat dari sambutan Wakil Bupati Pekalongan, Ibu Arini Harimurti di sela penutupan acara APNE (Amazing Petung National Explore) 2017 hari pertama yang berlangsung di area Curug Lawe.

Penutupan Acara APNE 2017 hari pertama yang berlangsung di area Curug Lawe

Hutan Petungkriyono disebut – sebut sebagai salah satu paru – paru dunia, bahkan menjadi satu – satunya hutan alam yang masih tersisa di Pulau Jawa.

Itulah sekelumit informasi tentang Petungkriyono.

 

Ide Pengembangan Kawasan Petungkriyono

Pada 5 Agustus 2017, saya bersama teman – teman yang terpilih sebagai peserta APNE 2017 berkesempatan untuk mengunjungi Petungkriyono. Kunjungan ini tidak sekedar hanya untuk jalan – jalan, mengambil foto lalu selesai. Kunjungan kami kesana adalah untuk melihat segala potensi yang ada di Kawasan Petungkriyono.

Setelah mengeksplore Hutan Petungkriyono sehari penuh saya menemukan banyak sekali potensi wisata alam yang apabila dikembangkan dengan baik maka kelak nantinya Petungkriyono akan menjadi destinasi wisata alam yang dapat diperhitungkan bahkan bisa pula menjadi destinasi wisata unggulan yang dimiliki oleh Jawa Tengah!

Adapun potensi wisata alam Petungkriyono yang bisa dikembangkan adalah sebagai berikut

  1. Wildlife Watching

Wildlife watching atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya “Menonton Perilaku Satwa Liar”.

Saya sangat tercengang ketika dikatakan bahwa di Hutan Petungkriyono masih ditemukan beberapa primata endemik atau yang tidak ditemukan dimana pun selain di Jawa, yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch), Lutung Jawa (Trachypithecus auratus auratus) dan Surili (Presbytis comata).

Khusus Owa Jawa, sebelumnya saya mengira hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak saja, ternyata di bumi Batik pun juga ada. Sayangnya pada saat kunjungan kali ini, saya tidak menemukan primata yang dikenal setia dan pemalu ini. Tapi hal itu terobati dengan kedatangan sekelompok Lutung Jawa yang bermain – main di sekitar pohon yang berada di Welo Asri.

Sekelompok Lutung Jawa hinggap di pohon sekitar Welo Asri

Di sepanjang jalan menuju tiap spot yang telah ditentukan, saya menemukan banyak sekali kupu – kupu yang berterbangan. Mereka mengepakan sayap – sayap kecilnya yang indah berwarna – warni.

“sekarang lagi musim kemarau, mas. Jadi mas-nya bisa lihat banyak kupu – kupu” kata Nurdin, sopir yang menemani perjalanan kami.

Masih banyak lagi hewan – hewan liar nan langka yang bisa ditemukan di Hutan Petungkriyono seperti macan tutul dan macan kumbang. Dengan kehadiran satwa liar yang ada di Hutan Petungkriyono tentunya potensi yang satu ini bisa dikembangkan dengan baik.

 

  1. Birdwatching

Birding atau birdwatching atau mengamati burung adalah bisnis terbesar dalam wildlife watching. Bisnis birding ini sangat besar khususnya di negara Eropa dan Amerika Serikat serta negara Asia, seperti Jepang dan Korea.

Petungkriyono bisa mengembangkan potensi birdwatching sebab ia merupakan rumah yang nyaman bagi Elang Hitam (Ichtiaetus malayensis), Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Julang Emas (Aceros undulates).

Pada saat rombongan peserta APNE 2017 tiba di tugu Petungkriyono, kehadiran kami langsung disambut oleh seekor Elang Jawa yang terbang tepat diatas kami, ia terus terbang berputar – putar dengan nyaman. Kedatangan kami di Petungkriyono memang bertepatan dengan waktunya Elang Jawa mencari makan.

Elang Jawa nampak terbang di atas Tugu Petungkriyono

 

  1. Wisata Lanskap (Landscape tourism)

Wisata lanskap ialah wisata melihat pemandangan atau sesuatu yang ada hubungannya dengan keindahan alam.

Berada di dataran tinggi dengan bentang alam berupa gunung – gunung, hutan belantara, air terjun dan sungai – sungai dengan air yang jernih tentunya peluang wisata lanskap di Petungkriyono sangat potensial untuk dikembangkan.

Hal itu sudah terbukti dengan banyaknya spot – spot menarik yang telah ditata sedemikian rupa oleh kelompok Sadar Wisata Petungkriyono sehingga menarik untuk dikunjungi.

Di setiap spot yang kami kunjungi, kami selalu menemukan gardu pandang atau rumah pohon yang menyajikan pemandangan yang sangat indah. Saking banyaknya spot gardu pandang yang ada di Petungkriyono sehingga saya menyebutnya sebagai “Negeri Seribu Satu Gardu Pandang”

Gardu pandang di Welo Asri

 

Pemandangan lanskap sungai yang diapit oleh hutan, dilihat dari gardu pandang Welo Asri

 

Rumah pohon yang juga bisa digunakan untuk melihat pemandangan lebih luas lagi, lokasi : Welo Asri

Penataan wisata lanskap di Petungkriyono yang saya lihat sudah terbilang mumpuni, tinggal bagaimana pengelola menambahkan fitur – fitur keselamatan bagi pengunjung sehingga lebih aman lagi ketika berada di gardu pandang atau rumah pohon yang tersedia.

 

  1. Wisata Ilmiah

Hutan Petungkriyono memiliki keanekaragaman dan kekayaan hayati yang tinggi. Salah satu hutan di Petungkriyono yang paling dikenal adalah Hutan Sokokembang dimana Owa Jawa dapat ditemukan disini dan hutan ini sekaligus menjadi habitat Owa Jawa terbesar kedua di Indonesia. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami tidak mengunjungi hutan ini.

Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak kehadiran Owa Jawa mendatangkan berbagai peneliti yang datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sifat dan perilaku primata ini memang sangat unik untuk diteliti.

Agar peneliti berkenan untuk datang melakukan penelitian maupun wisata ilmiah maka seharusnya di Hutan Petungkriyono dibangun riset stasiun penelitian dimana nantinya peneliti – peneliti dapat melakukan penelitiannya dengan baik.

Selain itu perlu juga membuat database yang bagus dan sesuai dengan data borang (form) mereka, sehingga nantinya banyak peneliti yang dapat membandingkan data ekologi di setiap hutan tropik. Terlebih lagi hutan alam di Petungkriyono merupakan karakter hujan tropis dan hutan primer yang tersisa di Pulau Jawa. Maka seharusnya Petungkriyono menjadi destinasi yang menarik bagi peminat wisata ilmiah.

 

  1. Bumi Perkemahan

Dari pengamatan saya mengunjungi berbagai kawasan konservasi, hutan lindung atau ekowisata. Ternyata ia tidak hanya diminati bagi mereka yang bertitelkan peneliti saja. Masyarakat umum pun sebenarnya juga sangat tertarik dengan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna yang ada di dalamnya. Selain itu mereka juga ingin sekali bersatu dengan alam setelah di hari kerja terpenjara dalam ruang bernama rutinitas.

Beberapa spot yang ada di Petungkriyono telah memiliki jawaban akan hal ini yaitu dengan menciptakan sebuah bumi perkemahan yang bisa digunakan oleh mereka yang ingin menyatu dengan alam.

Pintu masuk area Curug Lawe
Bumi perkemahan di area Curug Lawe

Dari mengeksplore Petungkriyono seharian saya telah menemukan dua bumi perkemahan yaitu yang ada di area Curug Lawed dan di area Curug Bajing. Keduanya memiliki kelebihannya masing – masing. Bumi Perkemahan Curug Lawe memiliki panorama hutan – hutan pinus yang bisa dikatakan photogenic atau sangat menarik untuk dijadikan latar pengambilan foto. Sedangkan di Bumi Perkemahan Curug Bajing, disini anda akan ditemani dengan pemandangan Curug Bajing yang memiliki ketinggian 75 meter serta suara gemiricik air yang sangat menentramkan jiwa.

Area Curug Bajing yang juga terdapat Bumi Perkemahan

 

Curug Bajing
  1. Wisata Pekarangan

Di negeri matahari terbit, banyak pengunjung yang datang untuk melihat bagaimana masyarakat kampung membuat lanskapnya yang sangat unik yang disebut “Satoyama”

Kawasan pekarangan di Indonesia sangat unik dengan berbagai kelengkapannya, pun begitu dengan yang ada di Petungkriyono. Kelompok Sadar Wisata yang mengelola obyek – obyek wisata yang ada disini telah mampu mengolah pekarangan mereka dengan sangat baik sehingga terlihat rapi dan cantik.

Mereka menanam berbagai aneka bunga dan tumbuhan obat – obatan seperti Kapulaga Jawa (Amomum compactum) yang dapat digunakan sebagai bahan campuran jamu dan sebagai rempah untuk masakan tertentu. Mereka dengan piawai mengkombinasikan satu tanaman dengan tanaman lainnya. Selain itu mereka juga telah siap dengan pemberian nama tiap tumbuhan yang ada lengkap dengan nama latinnya. Keren!

 

Bunga tahi ayam (Lantana camara) di salah satu pekarangan yang ada di area Curug Bajing

 

Bunga mawar menghiasi pekarangan di area Curug Bajing

 

  1. Wisata Olahraga (Sport tourism)

Dikelilingi oleh pegunungan, tentunya Petungkriyono memiliki gunung – gunung yang menjadi minat bagi para pendaki. Bahkan Bupati Pekalongan sendiri telah ikut serta mendaki salah satu gunung yang ada di Petungkriyono.

Arus sungai di Petungkriyono cukup deras sehingga cocok untuk melakukan olahraga air, lokasi : jembatan sipingit

 

Fotografer memotret arus sungai yang deras untuk menciptakan garis air yang halus, lokasi : jembatan sipingit

 

Airnya juga tidak kerah melainkan jernih, pastinya menyenangkan lokasi : jembatan sipingit

Kawasan Petungkriyono juga dilengkapi dengan kehadiran sungai – sungai yang memiliki arus cukup deras yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat wisata olahraga air seperti river tubing. Anda bisa melakukan ini dengan mengunjungi spot Welo Asri.

 

  1. Wisata Kuliner

Tiap daerah yang ada di Indonesia tentunya selalu memiliki makanan khas atau unik yang mungkin tidak kita temui di tempat lain.

Pada saat sesi makan siang di area Curug Lawe, kami tak hanya disuguhkan nasi putih namun juga ada nasi hitam dan nasi jagung. Bagi saya ini sangat unik, sehingga saya pun ikut mencobanya.

Makanan yang terdiri dari nasi jagung dan nasi hitam, lokasi : Curug Lawe

 

Kopi Owa, oleh – oleh Khas Petungkriyono, lokasi : Curug Lawe

Masih di Curug Lawe, disini anda juga bisa membeli oleh – oleh khas Petungkriyono yaitu Kopi Owa. Kopi ini merupakan kopi bubuk asli olahan kampung daerah setempat yang masih diolah dengan cara tradisional.

 

  1. Paket Wisata Perajinan dan Produk Lokal

Pekalongan sangat identik dengan batik, bahkan disebut sebagai bumi legenda batik nusantara. Saat mengunjungi Curug Bajing terdapat sebuah pendopo yang memamerkan berbagai kain batik khas Pekalongan. Selain itu pengunjung juga diperkenankan untuk belajar membatik.

Pendopo di Curug Bajing yang memamerkan koleksi batik

Dan masih banyak lagi potensi wisata yang dimiliki kawasan Petungkriyungan seperti Paket wisata bersama petani atau melihat kesenian masyarakat desa. Mengapa perlu lebih banyak jenis destinasi yang harus dibuat dan dipikirkan bersama? Wisatawan yang datang ke tempat yang jauh seperti Petungkriyono, tidak hanya ingin melihat satu destinasi, tentu beragam kualitas bagus akan lebih baik.

Jarak tugu Petungkriyono dari Doro, terminal terdekat

Hubungan yang jelas adalah apabila destinasi beragam, asumsinya lama kunjungan atau length of stay akan naik. Length of stay di suatu tempat tentu berhubungan dengan seberapa kuat daya tarik suatu objek wisata. Semakin kuat dan mempesona tentu semakin mudah kita meyakinkan wisatawan untuk tinggal lebih lama di Petungkriyono.

Selain itu, dengan obyek wisata yang beragam, menyisakan Daerah Tujuan Wisata yang harus dikunjungi di kemudian hari, sehingga frekuensi kunjungan dapat lebih banyak.

Spot welo Asri

 

Curug Sibedug di saat musim kemarau

 

lokasi Curug Cibedug yang paling mudah ditemukan karena berada di tepi jalan raya Petungkriyono

 

banyak sekali opsi yang ada di Petungkriyono salah satunya Curug Cibedug

Seharian mengunjungi Petungkriyono seperti yang telah saya dan teman – teman peserta APNE 2017 lakukan masih belum cukup untuk mengeksplore Petungkriyono secara keseluruhan. Saya pribadi kini telah jatuh cinta dengan apa yang ada di Petungkriyono dan berharap memiliki kesempatan untuk kembali mengunjunginya.

 

Penutup

Kekayaan alam dan keanekaragaman hayati Petungkriyono membuat wisata alam yang ada di dalamnya memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengembangkan lokasi wisata alam seperti yang ada di kawasan Petungkriyono secara berkelanjutan dalam arti lingkungan hidup, ekonomi, sosial dan budaya. Jika dapat dilakukan dengan sistem regulasi, insentif dan disinsentif yang tepat, keberadaan pengunjung yang bertanggung jawab, dan pembagian peran tugas antara semua pihak terkait, maka pariwisata alam yang berkelanjutan dapat kita lanjutkan.

 

Oleh

Muhammad Catur Nugraha

Alumni Teknik Kelautan ITS tahun 2012, CEO CV Jelajah Sumbar, Travel Blogger di jelajahsumbar.com

About Author

Muhammad Catur Nugraha
Muhammad Catur Nugraha
Sempat bekerja selama 4 tahun sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang kontruksi bangunan lepas pantai. Kecintaanya terhadap kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumbar sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

August 7, 2017
Emang yak, s7 kameranya beda...awkakwa
August 10, 2017
mantapp jivva
August 17, 2017
Ide bagus Mas, jelas dan tepat sasaran pemaparannya. Biasanya turis manca juga suka yang alam2 gitu

Leave a Reply

*