Trip Report Jelajah Sumbar Hari Kedua : Istana Pagaruyung
image of 1140x530

Istana Pagaruyung di Batusangkar menjadi destinasi kami selanjutnya setelah Lembah Harau. Perjalanan dari Lembah Harau ke Istana Pagaruyung memakan waktu sekitar 1,5 –  2 jam perjalanan. Setelah melewati Kota Payakumbuh, sopir membawa kami ke arah Situjuah, bagi saya ini adalah pengalaman pertama melintasi Situjuah, jalannya relatif sempit namun terobati dengan pemandangan sawah hijau yang terhampar luas di sisi kanan kiri jalan.

Karena telah memasuki jam makan siang kami singgah terlebih dahulu untuk Ishoma di rumah makan Pangek “OR” Situjuah. Rumah makan ini sangat laris, meja – meja makan telah banyak yang dipesan oleh rombonga lain. Kami pun yang datang dadakan kesulitan mencari meja makan yang masih kosong tapi setelah diatur uda uni dapat juga sih itu pun kami mencar – mencar mejanya.

Setelah Ishoma lanjut lagi, perjalanan di pemandangan masih di dominasi berupa sawah hijau. Kata Pak Sopir kalo lagi musim durian maka di kanan kiri banyak yang jualan durian dengan harga sangat murah yaitu Rp 2 ribu! Sayang, ketika itu musim durian telah usai.

Masuk ke wilayah Tabek Patah, sebenarnya Pak Sopir menawarkan berhenti di tempat penggilingan kopi tradisional tapi teman – teman lelap tertidur jadinya gag mampir deh. Ada juga Home Industry Kiniko disini yang terkenal dengan pisang sale-nya tapi dilewatin juga.

Di tengah perjalanan hujan deras, saya sempat khawatir karena bisa sia – sia aja kunjungan ke Pagaruyung kalo hujan. Saya hubungi Wilma, teman saya yang bertugas sebagai travel guide di Pagaruyung, katanya tidak ada hujan disana, hujan yang terjadi itu hanya hujan lokal dan itu sudah biasa. Benar saja, memasuki Kota Batusangkar tidak ada hujan sama sekali, jalanan pun kering.

Akhirnya kami sampai di depan loket masuk Istana Pagaruyung, Wilma sudah siap menyambut kedatangan rombongan kami, selagi saya sibuk mengurus tiket masuk, Wilma mengajak teman – teman ke area pelataran istana untuk foto bersama dengan latar Istana Pagaruyung yang megah.

Foto bersama dengan latar Istana Pagaruyung. Full team, akhirnya di foto ini ada saya-nya. Yeah..
Foto bersama dengan latar Istana Pagaruyung. Full team, akhirnya di foto ini ada saya-nya. Yeah..

Usai berfoto bersama kami terpencar, ada yang tertarik mengenakan pakaian adat dan ada juga yang hanya ingin sekedar santai menikmati suasana di Istana Pagaruyung.

Menikmati suasana Istana Pagaruyung
Menikmati suasana Istana Pagaruyung sembari menunggu hujan reda

Untuk mengenakan pakaian adat minang disini dikenakan biaya sewa sebesar Rp 35 ribu per orang, ukurannya lengkap dari anak – anak hingga orang dewasa. Kita bisa memilih warna pakaian yang kita sukai ada merah, kuning, hitam, dan biru, pokoknya semua keren.

Pakaian adat minang ukuran anak - anak juga tersedia disini
Pakaian adat minang ukuran anak – anak juga tersedia disini

Usai mengenakan pakaian adat dan bergaya ala datuk, kami mencari tempat untuk mengambil foto. Tofik (sebut saja begitu) sudah sibuk dengan kamera go-pr* dan tongsisnya. Ganteng dikit cekrek, ganteng banyak cekrek, upload.

Ala - ala anal boy band, sok - sok gag ngelihat kamera
Ala – ala anak boy band, sok – sok gag ngelihat kamera
Kalau wanita berpakaian seperti ini terlihat cantik deh.
Kalau wanita berpakaian seperti ini terlihat cantik deh.

Ada juga yang berfoto seperti ala – ala pre wedding sebut saja, eh.. ga usah disebutin sih. Bikin ngiri aja. Huaaa..

Kedatangan kami membawa sedikit berkah bagi para fotografer disana, banyak diantara kami yang membeli foto langsung jadi, harganya Rp 30 ribu untuk ukuran 6R, Rp 20 ribu untuk ukuran 4R.

Okeh, segini aja ceritanya. Dari Istana Pagaruyung kami kembali ke Kota Padang melalui Ombilin dengan begitu sembari pulang kami juga bisa melihat keindahan Danau Singkarak.

Panorama sunset di tepian Danau Singkarak
Panorama sunset di tepian Danau Singkarak

 

About Author

client-photo-1
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.