Balairung Sari Tabek, Wujud Harmoni Budaya Bermusyawarah Masyarakat Minangkabau
Balai Adat Balairung Sari

Terletak sekitar 14 Km dari Kota Batusangkar, tepatnya di Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Terdapat bangunan cagar budaya yang dianggap sebagai prototipe atap bagonjong yaitu Balairung Sari Tabek.

Kunjungan kami ke Balairung Sari ini adalah dalam rangka mengunjungi situs – situs cagar budaya yang banyak tersebar di Kabupaten Tanah Datar, sebelumnya saya sudah menjelajahi Nagari Tuo Pariangan.  Kemudian saya melanjutkan ke Balairung Sari yang lokasinya cukup dekat dari Nagari Tuo Pariangan. Untuk mencapai ke lokasi cukup mudah, karena berada di tepi jalan arus mudik yaitu di Jalan Padang Panjang – Batusangkar.

Lokasi Balairung Sari Tabek
Balairung Sari berada di Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar atau sekitar 14 Km dari Kota Batusangkar

Sampai di kompleks Balairung Sari Tabek, kami tidak dikenakan tiket masuk alias gratis. Kami pun segera menjelajahi seluruh isi kompleks ini untuk mengetahui sejarah dari bangunan ini dan kebetulan sekali pada saat kedatangan kami sedang ada seorang juru pelihara yang saat itu sedang bersih – bersih, kedatangan kami disambut olehnya yang kemudian menceritakan tentang keberadaan Balairung Sari ini.

Dari informasi yang berkembang di masyarakat, yang menjadi arsitek Balairung Sari adalah Tantejo Gurhano pada sekitar 300 tahun yang lalu. Bangunan ini dirikan dengan maksud  sebagai tempat bermusyawarah adat sebagai perkembangan  Medan nan Bapaneh.

Bangunan Balairung Sari terbentang dari utara ke selatan, dengan ukuran panjang 48,24 meter dan lebar 3,40 meter Bangunan terbuat dari kayu sedangkan untuk atapnya terbuat dari bahan ijuk. Bangunan ditopang dengan tiang kayu sebanyak 36 buah, setinggi 3 meter. Sedangkan tinggi panggung (lantai) adalah 1 meter.

Bangunan ini memanjang dan tanpa dinding, tujuan dibuat seperti ini adalah agar penghulu yang mengadakan rapat dapat diikuti oleh masyarakat umum seluas – luasnya. Lantai panggung dibuat merata dari ujung utara ke selatan, hal ini menandakan Balairung Sari Tabek bangunannya bercirikan sistem Bodi Caniago namun masyarakatnya tidak menganut sistem kelarasan tersebut, masyarakat Nagari Tabek menganut sistem lareh nan Bunta jadi mereka tidak menganut sistem kelarasan Bodi Caniago maupun Koto Piliang.

Jadi, pada zaman dahulu Pemimpin koto Piliang dan Bodi Chaniago ketika berdiskusi atau hendak bersidang memutuskan sesuatu dilakukan di Balairung Sari sebagai tempat yg paling netral. Hal ini menandakan bahwa, Balairung Sari Tabek merupakan wujud harmoni budaya bermusyawarah masyarakat Minangkabau.

Balairung Sari
Tiang penyangga yang berjumlah 36 buah

Keunikan bangunan ini yaitu terletak pada lantainya yang terputus dan tidak menyambung dengan lantai ruang berikutnya. Dengan demikian seolah – olah lantai bangunan ini terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi utara dan sisi selatan. Bagian tengah yang terputus ini disebut dengan Labuah Gajah, yang berfungsi sebagai tempat lewatnya kendaraan raja – raja. Di bagian belakang Balairung terdapat sebuah kolam yang besar, yang dulunya hanya berukuran kecil yang dimanfaatkan sebagai tempat mencuci kaki.

Labuah Gajah Balairung Sari Tabek
Labuah Gajah yang berfungsi sebagai tempat lewatnya kendaraan raja – raja

Hingga saat ini, Balairung Sari masih dipakai sebagai tempat musyawarah adat, selain itu tempat ini juga sering dijadikan sebagai tempat bermain bagi anak – anak setempat, seperti yang kami lihat saat itu banyak sekali anak – anak yang bermain usai pulang sekolah. “kalo sore lebih ramai lagi anak – anak yang bermain” kata sang juru pelihara.

Balairung Sari Tabek Batusangkar
Hingga saat ini, Balairung Sari masih dipakai sebagai tempat musyawarah adat, selain itu tempat ini juga sering dijadikan sebagai tempat bermain bagi anak – anak setempat

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Sempat bekerja selama 5 tahun sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

June 29, 2016
[…] gadang ini sebagai sarana musyawarah bagi pengikutnya, setelah musyawarah awal dilaksanakan di Balairung Sari Nagari Tabek dan keputusannya dilaksanakan di rumah […]
March 23, 2018
[…] Baca Juga : Balairung Sari Tabek, Wujud Harmoni Budaya Bermusyawarah Masyarakat Minangkabau […]

Leave a Reply