“yang… Hujan turun lagi Di bawah payung hitam kau berlindung” Lagu berjudul Antara Benci Dan Rindu yang dinyanyikan oleh Ratih Purwasih menemani kami saat menunggu hujan reda di rumah makan yang berada di Pantai Serdang. Dari tempat duduk kami terlihat ombak yang berkejaran menghempas bibir pantai. Milyaran buih kembali ke Pantai Serdang setelah menempuh perjalanan

Hujan deras bukanlah musuh dalam hidup saya, sedari kecil saya telah berteman akrab dengannya dan hingga saat ini saya masih menganggap hujan adalah berkah dari-Nya. Saat saya masih kecil, ketika hujan tiba saya segera pulang untuk mencari payung yang bisa saya bawa keluar untuk mencari pelanggan ojek payung. Biasanya mereka adalah para pekerja kantoran yang

Kami keluar dari Kawasan Batu Mentas dengan perasaan deg – degan karena mobil yang kami tumpangi bensinnya sudah tiris, berharap akan segera kami temui penjual bensin eceran karena di Belitung jangan terlalu berharap banyak dengan SPBU. Sudah dua SPBU yang kami temui tapi semuanya tutup. Akhirnya ketika menemui penjual bensin eceran kami menepi terlebih dahulu

Sunrise itu indah, namun butuh perjuangan untuk mendapatkan keindahannya. Orang yang ingin melihat bangunnya matahari di ufuk timur harus mengorbankan waktu tidurnya, ia harus bangun lebih awal dari biasanya. Begitu pun dengan kami yang hendak menyaksikan pesona Sunrise yang ada di Danau Kaolin. Ayam belum berkokok, pagi masih gelap dan dingin, namun kami sudah terbangun

Meski kampung asli saya ada di Padang, tapi di tahun 2016 yang didominasi oleh hujan ini saya merasa memiliki kampung halaman yang kedua yaitu Belitung. Di tahun ini saya sudah bolak – balik sebanyak tiga kali untuk mengunjunginya. Pertama pada saat bulan puasa dengan maksud survey mencari hotel, bus, kapal serta retoran. Bulan lalu, saya