Bakar Kalori Dengan Menaiki Janjang Ampek Puluah Bukittinggi
janjang ampek puluah

Bukittinggi koto rang agam yo andam oi, mandaki Janjang Ampek Puluah

Kalimat diatas adalah salah satu bait dalam lagu berjudul Andam Oi ciptaan Ramadhan Ahmad. Lagu minang tersebut cukup populer dan banyak sekali penyanyi yang memasukan lagu ini dalam albumnya.

Lagu ini begitu terngiang – ngiang buat saya, kala itu saya membawa 19 orang mengelilingi Sumatera Barat selama 3 hari 2 malam. Di perjalanan, Pak Mawardi driver yang membawa bus yang kami sewa ini entah berapa kali ia menyetel lagu Andam Oi ini. Sampai – sampai kami menamai group perjalanan ini Andam Oi Group.

Oke cukup bahasan terkait lagu Andam Oi, seperti biasa, tulisan perjalanan saya memang selalu bertele – tele dan tidak to the point.

Tulisan ini sebenarnya ingin membahas Janjang Ampek Puluah, salah satu ikon di Kota Bukittinggi yang disebutkan dalam lagu Andam Oi itu.

kaki janjang ampek puluah

Sudah tak terhitung berapa kali saya mengunjungi Bukittinggi, namun saya belum berkesempatan untuk menyambangi Janjang Ampek Puluah.

Nah di September 2020, saya berkesempatan kembali ke Bukittinggi. Maka, kali ini saya tidak mau menyiakan – nyiakan kesempatan untuk menguji fisik saya dengan menaiki Janjang Ampek Puluah.

Saya tidak ingin sendiri, jadi saya mengajak Agus untuk ikut serta.

Dari kantor Jelalah Sumbar di bilangan Inkorba Bukittinggi, kami menuju Pasar Atas dan memarkirkan sepeda motor sesuai pada tempat yang disediakan Pemkot. FYI, parkir sembarangan di Bukittinggi ngeri hukumannya, sanak.

Sesuai rencana, kami akan menaiki janjang ampek puluah, kalau menuruninya rasanya kurang greget gitu.

Setelah memarkirkan motor, kami berjalan menuju Jam Gadang, ya foto – foto lah, sudah di Bukittinggi enggak ke Jam Gadang gimana gitu kan?

Kemudian kami berjalan menurun ke Pasar Lereng lalu ke titik awal janjang.

Janjang Ampek Puluah saat ini adalah hasil dari renovasi yang dilakukan pada tahun 2017. Jika sebelumnya gerbang janjang ini hanya ada pada bagian atas, kini pada bagian bawahnya juga terdapat gapura.

janjang 40 bukittinggi

Gapura di bagian bawah ini, dibangun dengan gaya kolonial dengan empat tiang yang ditanam dalam dua pondasi. Bagian atapnya, berbentuk segiti dengan tulisan besar dibawahnya “Janjang Ampek Puluah”.

 Di bagian samping gapura ini terdapat plakat yang berisi sejarah ringkas mengenai janjang ini. Sayang, ada yang salah pada plakat ini yaitu tahun dibangunnya janjang ini yang tertuliskan 1968. Ngaco banget kan? Waktu bikin plakat apa enggak dicek dulu gitu ya?

Sejarah Singkat Janjang Ampek Puluah

Janjang ini dibangun pada tahun 1908 dimasa Louis Eonstant Westenenk yang menjabat controleur agam. Janjang ini menghubungkan Pasar Atas yang terletak di atas Bukit Kandang Kabau dengan Pasar Banto dan Pasar Bawah.

sejarah janjang ampek puluah

Penamaan janjang ini mengacu kepada empat puluh orang penghulu di Luhak Agam yang bermufakat untuk membangun janjang ini guna memudahkan anak nagari dalam berlalu lintas mengunjungi pasar – pasar yang ada di Bukittinggi pada masa itu.

Pada puncak janjang terdapat dua patung harimau campo lambing kebesaran Luhak Agam yang mengawal kiri dan kanan.

Saatnya Bakar Lemak

Kini saatnya bagi kami untuk membakar lemak, kami mulai menaiki satu per satu anak tangga yang ada. Awalnya begitu mudah karena sangat landai.

Lalu sampailah kami pada bagian janjang yang bikin sasak angok. Ya bagian dimana terdapat anak tangga berjumlah 40 dengan kemiringan yang amat curam.

Meski demikian, anak – anak tangga itu dapat dengan mudah kami lalui, ya walau tetap bikin ngos – ngosan juga.

Oh iya, kalau kamu capek naik turun janjang ini. Tiap sore hari, di bawah janjang ini ada Ubek Tawa Mak Kuto yang mangkal. Rasanya enak dan nyegerin lho.

About Author

client-photo-1
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.