Ngalau Seribu, Melihat Lembah Harau Dari Sisi yang Berbeda
objek wisata Ngalau Seribu Lembah Harau

Kisah petualangan kami di Lembah Harau dalam rangka menghadiahi Agus yang baru saja melepas masa bujangnya masih berlanjut. Setelah memacu adrénaline dengan mengeksplore air terjun tujuh tingkat, selanjutnya kami hendak mendaki ke Ngalau Seribu.

Ngalau adalah sebutan bagi orang Minang untuk menyebut goa. Seribu disini bukan berarti goanya ada seribu. Penyebutan seribu biasa ditujukan untuk menunjukan jumlah yang banyak. Sama seperti Candi Prambanan yang juga disebut sebagai Candi Seribu.

Rencana awalnya adalah setelah turun dari air terjun tujuh tingkat, kami langsung ke Ngalau Seribu. Bermalam disana dengan tenda. Kami telah menyiapkan semua peralatan untuk berkemah.

Namun rencana tersebut urung kami lakukan. Tenaga kami sudah habis sore itu.

Kami pun hendak beristirahat semalam di mushala yang ada di Kampung Harau. Mushala ini belum sepenuhnya jadi, dindingnya masih semen yang belum di cat. Untuk berwudhu, jemaah mushala ini menggunakan air sungai kecil yang mengalir di depannya.

Usai menjalankan salat, salah seorang warga Kampung Padang Rukam menemui kami.

jan lalok disiko, banyak rangik (jangan tidur disini, banyak nyamuk)katanya

lalok lah di tampek saya (tidurlah di tempat saya)” tambahnya lagi

Kami menerima tawarannya. Malam itu kami menginap di rumahnya yang sangat sederhana. Sebelum tidur kami bersenda gurau dengan keluarga penghuni rumah.

Malam itu kami disuguhkan singkong rebus yang dibalur dengan gula merah cair, selain itu kami juga disediakan makan dengan sayur paku yang langsung di ambil di depan rumah.

Mendaki Ngalau Seribu

Pagi datang dengan cepat, menghapus warna gelap pada dinding langit.

Kami telah terjaga dari tidur yang nyenyak. Kami pun langsung menyiapkan diri untuk memulai petualangan selanjutnya.

Tanpa sarapan terlebih dahulu, kami memulai langkah menuju Ngalau Seribu. Dalam perjalanan kesana, kami ditemani oleh Ibal dan Buyung, keduanya anak dari pemilik rumah yang kami tempati semalam.

Ibal sehari – harinya bekerja sebagai pemetik daun gambir yang banyak tumbuh di puncak – puncak bukit cadas di sekitar Lembah Harau. Sudah seminggu ini ia bersemangat untuk mengambil daun gambir sebab daun yang sebagian besar diekspor ke India ini harganya sedang bagus.

Buyung, dia masih anak – anak, dia baru menduduki kelas 4 SD. Harusnya hari itu ia masuk sekolah, namun karena semalam mendengar kami hendak ke Ngalau Seribu, ia memutuskan untuk ikut menemani kami.

Awal perjalanan masih menyenangkan, jalan memang menanjak namun bersahabat. Di kiri kanan banyak tumbuh pohon paku – pakuan dan pohon gambir yang diambil daunnya oleh warga sekitar.

Di tengah perjalanan, Bang Tri meminta berhenti. Ia mengaku pusing, mungkin karena kami memulai pendakian ini tanpa sarapan terlebih dahulu. Jadinya ia agak lemas.

Di keluarga saya, Bang Tri adalah anggota keluarga dengan track record paling minim di dunia petualangan. Setahu saya pengalaman trekking yang pernah ia lakukan adalah saat mengunjungi Suku Baduy di Banten dalam rangka mengaplikasikan ilmu yang ia dapat dalam mata pelajaran Sosiologi. Perjalanan ini membutuhkan waktu 4 jam berjalan normal. Namun itu juga sudah beribu – ribu purnama yang lalu.

Bang Tri nampak termenung di atas batu besar, wajahnya tertunduk. Dan seketika ia memuntahkan isi perutnya.

“ah sudah enakan nih, ayo lanjut lagi” kata Bang Tri

Syukurlah, karena kami pikir harus kembali turun dan membatalkan pendakian ke Ngalau Seribu ini.

Setelah 1 jam pendakian, sampailah kami di puncak sebuah bukit dimana banyak tumbuh tanaman paku – pakuan. Memang di Lembah Harau tanaman jenis paku – pakuan mudah sekali ditemukan, pantas saja semalam oleh tuan rumah kami juga disajikan sayur paku. Selain paku – pakuan, disini kami juga melihat tanaman kantong semar, dalam bahasa ilmiahnya disebut Nepenthes. Kalau saya ditanya Nepenthes jenis apa? Saya tidak tahu, saya bukanlah ahli dalam bidang itu.

Panorama dari puncak bukit saat menuju Ngalau Seribu
Tanaman paku – pakuan tumbuh subur disini

Makanya saya berharap kelak suatu saat nanti saya dipasangkan oleh seorang yang ahli Biologi, jadi dalam penjelajahan yang saya lakukan, akan ada yang bisa menjelaskan perihal tanaman dan hewan yang saya jumpai.

Setahun berselang dari perjalanan ini, saya menikahi seorang gadis lulusan Biologi dari Universitas ternama di Banda Aceh.

Catatan perjalanan Ngalau Seribu Lembah Harau ini memang tidak to the point dan cenderung ngalor ngidul.

Dari puncak bukit yang landai ini, Ngalau Seribu su dekat.

Akhirnya kami sampai di Ngalau Seribu

Mulut goa Ngalau Seribu

Tidak ada orang lain selain kami, mungkin karena hari kerja? Ah tapi di hari libur pun jarang ada wisatawan yang kesini sebab memang destinasi ini hanya ditujukan kepada mereka yang menyukai wisata minat khusus. Sayang, wisatawan domestik tidak suka hal ini.

Saya pernah melihat daftar isi buku tamu di Pesanggerahan Ngalau Seribu milik Datuk Suar, disana tertulis nama – nama yang asing dan negara – negara yang asing pula.

Goa ini diberi nama Ngalau Seribu karena goa ini tercipta dari susunan ruang – ruang dengan jumlah yang tak hingga. Oleh sebab itu kalau ingin kesini sebaiknya kita ditemani oleh pemandu lokal agak tak tersesat saat menelusuri dalam goa.

Kami segera mencari sumber air yang terdapat di goa ini. Bang Rangga tahu tempatnya, dia memang sudah pernah kesini beberapa waktu yang lalu.

Sumber air ini berasal dari tetesan air yang mengalir dari balik batu, untungnya saat itu sedang musim hujan sehingga air yang menetes cukup banyak.

Kami memasak mie instan dan minuman menggunakan air ini. Alhamdulillah aman. Buktinya saya masih hidup untuk menuliskan cerita yang sudah berlalu 3 tahun ini.

Masak di dekat sumber air yang ada di goa

Goa ini juga merupakan tempat yang nyaman bagi burung walet mendirikan sarangnya. Sayangnya karena harga sarang burung walet mahal, membuatnya diburu oleh orang.

Kami masih menemukannya, ada yang berisikan telur yang belum menetas dan ada juga yang berisikan anak burung walet yang masih belum tumbuh bulunya. Kami biarkan mereka agar tetap hidup dan lestari keberadaannya.

Di dalam goa ini terdapat dinding yang berbentuk seperti karang di lautan.

Mungkinkah itu karang sesungguhya? Atau mungkin dulunya Lembah Harau adalah lautan. Bisa saja! Pada tahun 1980 tim geologi asal Jerman melalukan penelitian di Lembah Harau. Hasilnya mengatakan jenis batuan yang ada di Lembah Harau identik dengan yang ditemukan di dasar laut berupa batuan breksi dan konglomerat.

Puas mengeksplore Ngalau Seribu, kami pun kembali turun melalui jalur lain yang lebih dekat namun lebih curam. Alhamdulillah, kami bisa turun kembali dengan selamat.

Itulah cerita petualangan kami mengeksplore sisi Lembah Harau yang anti mainstream selama 2 hari 1 malam.

Kalau anda belum baca cerita sebelumnya, silahkan klik tautan di bawah ini ya. Ceritanya seru juga kok!

Baca juga : Petualangan Menggapai Air Terjun Tujuh Tingkat di Lembah Harau

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.