Pariwisata di Ujung Negeri Indonesia, Salah Satunya Ada di Aceh
image of 1140x530

“Dari Sabang sampai Merauke
Dari Miangas sampai Pulau Rote
Indonesia tanah airku”

Paragraf diatas merupakan bagian dari lirik lagu dari jingle produk mie instan ternama di Indonesia. Hampir semua orang pun hafal dengan lagu tersebut. Baiklah, disini saya tidak akan membahas tentang mie instan namun yang akan saya kupas memang berkaitan dengan lirik lagu ciptaan A. Riyanto ini. Pada lirik lagu tersebut disebutkan empat tempat yang merupakan titik ujung dari negara Indonesia.  Di ujung Barat Indonesia ada Pulau Sabang di mana terdapat Tugu Nol Kilometer yang selalu menjadi perhatian traveler yang ke sana. Di ujung timur ada Maumere dimana terdapat Taman Nasional Wasur dengan kekayaan hayatinya. Kalau di ujung utara terdapat Pulau Miangas yang berbatasan langsung dengan Filipina dan di ujung selatan ada Pulau Rote yang dikenal sebagai daerah asal alat musik Sasando. Sungguh indah dan kaya-nya negeri ini.

Semenjak traveling serta menulis menjadi hobi saya sekitar 3 tahun yang lalu, saya terus berangan untuk bisa berdiri, menjejakan kaki di tiap ujung negeri ini lalu menceritakannya melalui tulisan.

Rote, Ujung Selatan Indonesia, Saya Pernah Kesana!

Jika ada keinginan disitu ada jalan, saya beruntung, karena saya pernah ditugaskan di Pelabuhan Tenau Kupang selama tiga bulan. Pelabuhan Tenau merupakan salah satu pintu masuk menuju titik ujung negeri Indonesia paling selatan yaitu Pulau Rote.

Setelah project yang dikerjakan di Pelabuhan Tenau selesai, saya mendapatkan masa liburan sebelum harus kembali ke Jakarta. Maka, saya memanfaatkan waktu tersebut untuk mengunjungi Pulau Rote. Saya tidak sendirian kesana, namun ditemani oleh dua orang yang juga merupakan rekan kerja saya di Tenau.

Untuk menuju Pulau Rote terdapat berbagai pilihan yaitu bisa dengan naik kapal ferry dari Pelabuhan Bolok. Bisa juga dengan naik kapal cepat dari Pelabuhan Tenau atau naik pesawat. Dengan pertimbangan efisiensi waktu dan biaya, maka kami putuskan saat menuju Rote menggunakan kapal cepat yang memakan waktu sekitar 1,5 jam. Ongkosnya Rp160.000 untuk kelas ekonomi sedangkan jika ingin kelas bisnis cukup menambah Rp30.000 ribu saja.

Perjalanan dimulai dari jam 08.30. Selama 1,5 jam kapal cepat ini melintasi Selat Rote dan sampailah kami di Pelabuhan Ba’a Rote. Di dermaga sudah banyak sekali orang-orang yang menawarkan jasa transportasi mulai dari ojek, angkot dan mobil travel.

Untuk kenyamanan kami pilih naik travel, ongkosnya memang jauh lebih mahal daripada angkot tapi lebih cepat dan nyaman. Dari Pelabuhan Ba’a hingga Pantai Nemberala yang merupakan tujuan utama kami, ongkosnya Rp100.000 per orangnya. Waktu yang ditempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Sampai di Nemberala hal yang pertama kali kami lakukan adalah mencari penginapan, di sekitar Pantai Nemberala banyak penginapan yang harganya mulai dari Rp 150 ribu hingga jutaan. Biasanya harga tersebut sudah termasuk makan 3 kali karena di Rote hingga saat ini masih susah ditemui warung makanan. Kami pun mendapatkan penginapan dengan harga terjangkau yaitu Ovabaluk Bungalow, sang pemilik menawarkan harga Rp 200.000 per malamnya yang langsung kami setujui.

Karena hari masih siang, kami ke Pantai Bo’a yang letaknya sekitar 4 Km dari Pantai Nemberala. Sebelum sampai Bo’a kami melihat pantai cantik di tepi jalan di mana banyak sekali rumput laut yang sedang dijemur, pantai itu namanya Oengaut.

Pantai Oengaut yang merupakan tempat budidaya rumput laut bagi masyarakat sekitar
Pantai Oengaut yang merupakan tempat budidaya rumput laut bagi masyarakat sekitar

Lanjut lagi menuju Pantai Bo’a, awalnya kami mengalami kesulitan untuk mencari pantai ini karena tidak ada plang penunjuk menuju lokasi. Namun berkat petunjuk dari warga, kami berhasil sampai di pantai yang menjadi lokasi favorit untuk berselancar ini.

Pantai Bo'a merupakan salah satu pantai yang menjadi tempat favorit bagi penggemar selancar
Pantai Bo’a merupakan salah satu pantai yang menjadi tempat favorit bagi penggemar selancar

Menjelang malam, kami kembali ke Nemberala karena panorama Sunset di Pulau Rote paling asik jika dilihat dari sana. Saat air mulai pasang diikuti dengan matahari yang turun perlahan kembali ke peraduannya dan kemudian langit bersolek cantik dengan pesona warna kemerah-merahannya.

Panorama matahari terbenam di Pantai Nemberala
Panorama matahari terbenam di Pantai Nemberala

Dua teman saya sepertinya sudah puas dengan perjalanan hari ini, tidak seperti saya yang masih ingin menjumpai keindahan di Rote. Keesokan paginya saya sendiri mencoba menelusuri pantai lainnya. Info dari pemilik penginapan. Katanya masih ada pantai cantik lainnya yaitu Pantai Tunggaoen dan Pantai Oeseli.

Mencari pantai yang dituju saat di Pulau Rote memang agak sulit, tidak ada petunjuk arah sebagai informasi. Pantai Tunggaoen pun demikian. Saat melintas hanya berbekal insting saja ketika saya menjumpai pertigaan dengan jalan tanah yang sepertinya mengarah ke pantai.

Saya ikuti jalan tersebut dan ternyata di ujung jalan ini adalah surga bernama Pantai Tunggaoen. Saya senang sekali berhasil menemukan pantai indah tersembunyi ini. Pantai Tunggaoen memiliki pasir putih dengan air laut berwarna biru dan hijau toska.

Pantai Tunggaoen, pantai rahasia di Pulau Rote
Pantai Tunggaoen, pantai rahasia di Pulau Rote

Selain itu, terdapat batu karang besar menyerupai kodok yang ingin melompat. Puas mengambil gambar di sini, saya lanjutkan menuju tujuan akhir yaitu Pantai Oeseli. Letaknya jauh dari Nemberala, yakni sekitar 20 Km.

Melewati jalan aspal, naik turun dan berkelok-kelok hingga sampailah saya diujung aspal tersebut dan berjumpa dengan permukiman warga yang masih sangat tradisional. Di sini terdapat beberapa rumah dengan dinding kayu dan beratapkan daun lontar.

Ibu-ibu sedang sibuk menjemur rumput laut yang sudah di panen. Ketika saya tanya ke salah satu wanita tersebut, ternyata saya sudah berada di Oeseli! Kondisi pantai Oeseli tak kalah indah dengan pantai-pantai lainnya, pasir putih halus serta ombak yang relatif tenang dan masih terlihat sepi.

Pantai Oeseli
Pantai Oeseli

Puas menjelajahi pantai-pantai cantik di pulau ujung selatan Indonesia, saya kembali ke penginapan lalu berkemas untuk menuju Kota Kupang. Beruntung saat itu terdapat jadwal penerbangan di sore hari, ongkosnya pun sama dengan kapal cepat.

Ketika mengudara meninggalkan Pulau Rote ada rasa puas dan kebanggaan di dalam hati, karena telah mencapai salah satu dari titik ujung Indonesia. Dan tentunya hasrat untuk menjelajahi titik ujung lainnya semakin membara.

Ingin Ke Sabang, Ujung Barat Negeri Indonesia

Diantara tiga titik ujung negeri yang belum saya kunjungi, Kota Sabang lah yang saat ini paling menjadi keinginan terbesar untuk dikunjungi. Alasannya adalah dari ketiga tempat tesebut Sabang adalah yang paling terdekat dari Jakarta, tempat saya tinggal. Akses menuju Sabang juga mudah, bisa ditempuh melalui laut maupun udara. Alasan lainnya adalah Pemerintah Kota Sabang sangat terbuka akan kegiatan wisata salah satunya adalah dengan menggelar Sabang Marine Festival 2016 yang pelaksanaannya akan berlangsung pada 26 – 30 April 2016. Ah, rasanya ingin sekali menjadi bagian dari Sabang Marine Festival di tahun ini.

Selama ini saya hanya tahu tentang Sabang dari pelajaran geografi, media cetak maupun online serta teman – teman saya yang pernah berkunjung ke Sabang. Apa yang mereka ceritakan semuanya sama, mereka mengatakan bahwa Sabang menawarkan keindahan alam yang masih alami, yakni daratan berupa hutan yang dipenuhi pepohonan dan lautan biru yang dihiasi oleh terumbu karang dan ikan berwarna – warni.

“kamu mau apapun, semuanya ada di Sabang” ujar Ratna, teman saya yang pernah ke Sabang. Sebagai daerah yang dikelilingi lautan Selat Malaka di utara dan timur, Samudra Hindia di selatan dan barat. Maka sudah tentunya Sabang memiliki potensi wisata bahari yang memukau dengan pantai berpasir putih serta air lautnya yang berwarna biru.

Salah satu pantai di Sabang yang masih jarang dikunjungi wisatawan, lokasinya dekat Pade Resort, foto diambil oleh Ratna Nana
Salah satu pantai di Sabang yang masih jarang dikunjungi wisatawan, lokasinya dekat Pade Resort, foto diambil oleh Ratna Nana

Jika belum puas dengan pantai, maka kunjungi pulau – pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh seperti Pulau Rondo, Pulau Klah, Pulau Seulako dan Pulau Rubiah yang menjadi tempat yang paling digemari bagi mereka yang memiliki hobi snorkeling maupun diving.

Bungalow di Iboih
Bungalow di Iboih, foto diambil oleh Ratna Nana
Pulau Rubiah, salah satu tempat favorit wisatawan selama berkunjung ke Sabang
Pulau Rubiah, salah satu tempat favorit wisatawan selama berkunjung ke Sabang, foto diambil oleh Vreemdelin

Tidak hanya destinasi bahari saja, Sabang juga memiliki danau air tawar bernama Danau Aneuk Laot, pemandian air panas di Gunung Merapi Jaboi. Gunung Merapi Jaboi sendiri merupakan gunung api paling barat Indonesia, bagi pecinta gunung yang sedang berwisata ke Sabang, gunung ini wajib dikunjungi.

Selain wisata alam, Sabang juga memiliki sejumlah peninggalan bangunan kolonial dan benteng sisa Perang Dunia II, cocok bagi wisatawan penggemar sejarah. Dan yang paling terakhir, jangan lupa berkunjung ke Tugu Titik 0 Kilometer, selain berfoto disini sebagai tanda pernah menginjakan kaki di titik ujung barat Indonesia, wisatawan juga bisa mendapatkan Sertifikat Nol Kilometer dengan mendaftarkan diri di kantor Dinas Pariwisata lalu Dinas Pariwisata akan memberikan sertifikat yang telah bertuliskan nama, untuk mendapatkan sertifikat ini dikenakan biaya administrasi Rp20.000. Untuk info lebis jelasnya terkait Sertifikat Nol Kilometer bisa diklik disini

“benar – benar lengkap, saya harus kesana!” gumam saya dalam hati usai mendengarkan cerita dari Ratna dan teman – teman saya yang pernah ke Sabang. Beruntung sekali mereka, semoga saya bisa mendapatkan kesempatan ke Sabang dan semakin beruntung saya jika ke Sabang bertepatan dengan Sabang Marine Festival 2016. Oh iya, Simak video di bawah ini ya. Nah, semakin ingin ke Sabang kan? Yuk berwisata ke Sabang.

https://youtu.be/igIE41FbU-Q

 

About Author

client-photo-1
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.