Sejenak di Bandara Internasional Incheon Korea Selatan
incheon_international_airport

Melanjutkan cerita terbang menuju Seoul bersama Garuda Indonesia.  Jam menunjukkan 08.30 waktu Korea (waktu di Korea Selatan 2 jam lebih awal dari Jakarta),  pesawat Airbus jenis A330 – 300 berbadan bongsor ini tiba di Bandara Internasional Incheon.

Fasilitas garbarata telah terpasang dengan sempurna, para penumpang satu per satu keluar dari badan pesawat. Baru saja melewati belalai gajah, tubuh ini langsung disekap oleh rasa dingin. Ah, rupanya jaket merek lokal berbahan polar yang biasa saya ajak mendaki gunung masih bisa ditembus oleh dinginnya Korea.

Ada orang bijak, yang entah siapa namanya pernah mengatakan seperti ini

“Destinasi pertama terbaik dari segala trip ialah toilet!”

Vena, Team Leader yang ditugaskan oleh Antavaya berusaha mengumpulkan kami di dekat toilet. Setelah itu ia memberikan kami waktu untuk mengeluarkan sisa – sisa metabolisme yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh.

Meski di toilet, selfie itu perlu!

 

Kalau kami fotonya yang normal – normal aja

Apa yang saya khawatirkan saat berada di negeri orang terjadi saat menggunakan fasilitas toilet di Bandara Incheon! Apa itu? Tidak seperti di Indonesia, hampir semua urinoir di Korea tidak ada keran kecil untuk beristinja. Pun begitu dengan WC-nya yang hanya menyediakan tisu saja.

Jadi, buat kamu yang mau ke Korea, saran saya bawa satu botol yang berisikan air bersih untuk istinja. Penting banget!

Selesai dengan urusan toilet (dari tadi nulis toilet mulu!) kami beranjak keluar menuju imigrasi. Disini kami tidak boleh mengeluarkan kamera untuk memotret apalagi merekam, tapi tetap aja ada rombongan kami yang melakukannya, fyuuh.

Proses imigrasi simple aja, tinggal serahin Paspor lalu sprindik jari yang kemudian si mesin ini akan menyampaikan arahan sesuai dengan bahasa si pemegang paspor. “silahkan lihat ke arah depan” bunyi mesin tersebut, maksudnya ialah untuk pemeriksaan retina mata. Lalu petugas imigrasi akan melihat wajah kita sesaat setelah itu saya diperkenankan untuk melewati imigrasi. Menghela nafas, akhirnya visa yang saya miliki bisa meloloskan saya dari proses yang sedikit menegangkan ini.

Kesal, saya kesal banget dengan proses ini, proses yang membuat saya harus bolak balik ke HRD, Bank tempat menabung untuk mengurus segala berkas keperluan visa Korea Selatan. Padahal kalau Lee Min Ho dan kawan – kawannya mau ke Indonesia itu bebas visa!

Dari imigrasi kami menuju ke Subway Train (semoga gag salah menyebut istilahnya, maklumlah baru sekali kesana) yang mengantarkan kami ke bagian pengambilan bagasi. Subway train ini tidak berawak, lajunya cukup kencang. Saya tidak tahu persis berapa unit Subway Train yang digunakan di Bandara Incheon ini. Yang jelas seandainya gag ada fasilitas ini butuh banyak waktu jika harus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya.

Antri menunggu kereta

Bandara Internasional Incheon ini emang besar banget, dia merupakan salah satu bandara terbesar di Asia.  Meski di dalam tiket disebut Seoul namun bandara ini tidak berada di Kota Seoul. Bandara Incheon didirikan di atas tanah reklamasi yang menghubungkan antara Pulau Yeongjong dan Pulau Yongyu.

Bandara ini gede banget lah

Setelah mengambil bagasi kami menuju pintu kedatangan, disana sudah ada tour guide yang akan menemani kami selama perjalanan 4 hari ke depan. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Alex, yang pasti itu bukan nama aslinya. Karena nama Korea asli ga akan jauh – jauh dari Lee, Kim, Park, Kang, Sung, Jung.

Berkumpul di pintu kedatangan

Bus yang akan mengantarkan kami menjelajahi Korea juga telah tersedia, sebelum meninggalkan Incheon, foto – foto dulu sebentar. Sudah gitu aja ceritanya tentang Bandara Internasional Incheon.

Foto – foto dulu sebelum meninggalkan Incheon

 

Selanjutnya kami akan menuju

National Folk Museum of Korea

Gyeongbokgung Palace

Nami Island

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Sempat bekerja selama 5 tahun sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply