Libur Tahun Baru Yang Asik dan Menyenangkan di Padang
liburan-keluarga-di-padang

Banyak cara untuk mengisi waktu libur tahun baru, salah satunya ialah berwisata bersama keluarga tercinta. Padang, Sumatera Barat bisa anda jadikan sebagai pilihan. Selain terkenal dengan kulinernya yang lamak bana, Ranah Minang juga memiliki keindahan alam yang sangat rancak mulai dari pantai, pulau, air terjun, lembah dan pegunungan. Wisata sejarah dan budaya disini juga masih kental. Ya, Padang adalah pilihan yang sangat tepat untuk keluarga anda!

Pada libur tahun baru 2018, kami dipercaya oleh keluarga dr. Thamrin Siahaan, Sp.An dari Batam. Adapun pilihan paket wisata sumbar yang dipilih ialah Paket Tour Padang Mandeh 4D3N Terlengkap. Untuk detail informasinya silahkan klik disini ya!

Hari Pertama 

Air Terjun Lembah Anai

“Kami hampir saja tertinggal pesawat, untungnya pesawat delay” kata Pak Thamrin seraya tertawa

15 menit dari Bandara Internasional Minangkabau, kami singgah di Rumah Makan Lamun Ombak untuk makan siang. Rumah makan yang sangat dikenal dikalangan wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat. Oh ya, lagu Nasi Padang yang diciptakan oleh Audun Kvitland itu konon katanya tercipta usai si penyanyi makan siang disini.

Selesai makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju Air Terjun Lembah Anai

Air Terjun Lembah Anai yang selalu dikunjungi wisatawan saat menuju Bukittinggi

Minang Village

Tak jauh dari Air Terjun Lembah Anai atau sekitar 10 – 15 menit perjalanan, kami tiba di destinasi kedua yaitu Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau atau lebih dikenal dengan sebutan Minang Village. Sama seperti Istana Basa Pagaruyung, disini juga tersedia penyewaan pakaian adat khas Minangkabau. Cocok banget kesini jika anda datang bersama pasangan seperti Bapak Thamrin dan istri.

Foto keluarga dengan latar Rumah Gadang

 

Menjadi pengantin ala Minang
Serasi banget kan!

Beranjak dari Minang Village, selanjutnya kami menuju ke sebuah desa yang berada di kaki Gunung Singgalang yang terkenal dengan kain tenun yaitu Desa Pandai Sikek.

Setelah itu kami singgah di Bika Talago untuk mencicipi penganan khas Minang, Bika Bakar. Enak banget disantap hangat – hangat, apalagi lokasinya berada di pelana antara Gunung Singgalang dan Gunung Marapi.

Usai menyantap Bika Bakar, seharusnya kami langsung menuju Bukittinggi. Namun berhubung cuaca sore itu sedang cerah, maka kami memutuskan untuk mengunjungi Lawang Park terlebih dahulu. Tujuan kesana tentunya untuk melihat keindahan Danau Maninjau dari ketinggian.

Panorama di Lawang Park

Menjelang malam, kami beranjak menuju Hotel Grand Royal Denai untuk istirahat.

Hari Kedua

Pagi hari Kota Bukittinggi terasa dingin, rasanya masih ingin bermalas – malasan di kamar. Tapi hari kedua ini ialah tour dengan rute terpanjang sehingga kami harus memulainya sedini mungkin.

Jam Gadang

Jam Gadang menjadi tujuan pertama kami, meski masih pagi suasana di sekitarnya sudah ramai oleh orang yang berlalu lalang.

Sudah sah kunjungan anda di Bukittinggi, jika telah berfoto dengan latar Jam Gadang

Taman Panorama Ngarai Sianok dan Lobang Jepang

Selanjutnya kami mengunjungi Taman Panorama Bukittinggi yang dimana kami bisa menyaksikan keindahan bentangan alam berupa Ngarai Sianok dengan latar Gunung Marapi dan Gunung Singgalang

Awan kelabu menggantung di kota Bukittinggi pagi itu, sehingga Gunung Marapi dan Gunung Singgalang tidak nampak

Selain menikmati pemandangan, disini kami juga sempatkan untuk masuk ke dalam lobang peninggalan Jepang.

Lembah Harau

Sebelum meninggalkan kota Bukittinggi, kami singgah ke Pusat oleh – oleh Ummi Aufa Hakim untuk membeli buah tangan. Selanjutnya kami menempuh perjalanan sejauh 60 kilometer ke arah timur menuju Lembah Harau.

Panorama Lembah Harau

25 Kilometer dari Lembah Harau ada Jembatan Kelok Sembilan, rasanya sayang banget kalau sudah sampai sana tidak disinggahi. Keluar dari Lembah Harau kami mengambil arah kiri, sekitar 20 menit perjalanan kami tiba di Kelok Sembilan. Indah dan megah banget!

Jembatan Kelok Sembilan

Memasuki tengah hari, kami beranjak menuju Situjuah tepatnya Rumah Makan Pongek “OR”. Rumah makan ini terkenal dengan ikan bakarnya dan tentunya pongek atau gulai nangka yang sedap. Jika sedang musim durian, disini juga tersedia si raja buah itu. Harganya terjangkau lho!

Usai mengisi perut, kami menuju Padang melewati Desa Tabek Patah dan Desa Pariangan yang disebut – sebut sebagai desa terindah di dunia versi majalah Travel Budget. Kami sempatkan singgah di Nagari Pariangan, berjalan memasuki perkampungan lalu melewati masjid Al Ishlah serta pemandian air panas.

Foto dengan latar Nagari Pariangan

Hari Ketiga

kami mengisi hari ketiga ini dengan mengunjungi Kawasan Wisata Mandeh yang berada di Kabupaten Pesisir Selatan. Berjarak sekitar 60 Km dari Kota Padang, Mandeh dapat dicapai setelah menempuh perjalanan selama 2 jam. Sepanjang perjalanan menuju Mandeh, kami disuguhkan oleh pemandangan alam yang begitu indah, mulai dari jalan yang bersisian langsung dengan pantai, bukit barisan, sawah nan permai sertai sungai – sungai besar yang mengalir air jernih diatasnya.

Tiba di Dermaga Carocok Tarusan, kami langsung menaiki kapal wisata yang telah menunggu kami. Setelah mesin dinyalakan kami mulai berlayar menuju Pulau Sironjong Ketek, pulau kecil yang terkenal sebagai lokasi cliff jumping. Kalau kami cukup foto – foto aja disini.

Foto di atas Pulau Sironjong Ketek

Selanjutnya kami snorkeling di spot yang telah ditentukan

Snorkeling di Mandeh

Usai snorkeling kami ke Pulau Setan untuk istirahat dan makan siang.

Puas mengeksplore Mandeh, kami kembali ke dermaga. Setelah berganti pakaian, kami kembali menuju Padang. Oh iya, di sepanjang jalan banyak yang jual durian lho. Kami sempatkan singgah di salah satu penjualnya. Ada 5 durian yang kami santap bersama.

Hari Keempat 

Hari keempat kami isi dengan bersantai di hotel. Kami baru memulai tour menjelang waktu makan siang.

Taman IORA Padang menjadi tujuan kami yang pertama hari ini. Meski saat itu cuaca sedang gerimis tapi tak menyurutkan semangat kami untuk berfoto disini.

Maaf ya, Pak.. Lensanya ketutupan rintik hujan

Tepat di seberang Taman IORA ada Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman. Ya, disanalah kami makan siang dengan menu Ikan Bakar yang sedap.

Oh iya di Kota Padang ada Es Duren yang terkenal, tentu saja kami harus cobain mumpung lagi di Padang. Ada dua kedai yang menjual menu yang sama yaitu Iko Gantino dan Ganti Nan Lamo. Soal cita rasa bisa dibilang sama saja, sama – sama rasa duren. Hehe..

Menjelang sore, kami mulai meninggalkan Kota Padang menuju Bandara Internasional Minangkabau dan kembali menuju Batam. Selamat tinggal Padang, puas sekali rasanya menjelajahi keindahan alam Ranah Minang selama 4 hari bersama Jelajah Sumbar.

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Sempat bekerja selama 5 tahun sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply