Masjid di Sawahlunto Ini Dulunya Adalah Sebuah PLTU

Setelah melintasi jalan sejauh 6 Km dari simpang Sawah Lunto – Lintas Sumatera akhirnya tiba juga saya di Kota Sawahlunto. Mata saya langsung terpana ke sebuah menara yang menjulang tinggi yang ternyata menara tersebut merupakan menara dari Masjid raya Nurul Iman Sawahlunto. Karena keunikannya saya menghentikan laju sepeda motor untuk mengetahui lebih dalam mengenai masjid ini.

Ternyata, masjid ini dulunya merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLT) yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1894. Eksploitasi batu bara mendorong masuknya transformasi teknologi uap ke Sawahlunto. Sentral listrik atau pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Mudik Air merupakan sentral listrik pertama di Sawahlunto.

PLTU Mudik Air merupakan tempat penggerak utama peralatan dan mesin – mesin pertambangan, sumber penerangan kota, gedung, kantor serta rumah – rumah warga Sawahlunto, setidaknya hingga dengan dibangunnya central electrich Salak tahun 1924. Seiiring berjalannya waktu, bekas bangunan central listrik ini telah beralih fungsi. Pada masa Agresi Belanda I dan II, bangunan ini berfungsi sebagai tempat perakitan senjata para pejuang Pernah juga sebagai rumah hunian pekerja tambang batu bara Ombilin. Hingga tahun 1952 bekas bangunan induk pembangkit listrik PLTU Sawahlunto Kubang Sirakuak difungsikan sebagai rumah ibadah umat muslim dengan nama Masjid Agung Nurul Iman

Salah satu dari lima kubah Masjid Agung Nurul Iman Sawahlunto
Salah satu dari lima kubah Masjid Agung Nurul Iman Sawahlunto

Masjid Agung Nurul Iman memiliki lima kubah besar,  lewat konstruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan secara merata. Di bawah bangunan masjid terdapat banker atau lubang perlindungan yang pernah digunakan sebagai tempat untuk perakitan senjata, granat dan mortar sehingga pada saat mengalami peralihan fungsi banyak ditemukan sisa – sisa amunisi pada banker tersebut dan kini amunisi tersebut disimpan sebagai koleksi Museum Goedang Ransoem Sawahlunto.

ewat kontruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan secara merata
lewat kontruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan secara merata

Bagian menarik lainnya dari masjid ini tentu saja adalah menaranya. Dahulu, menara ini berfungsi sebagai cerobong asap dan kini menara yang memiliki tinggi sekitar 75 meter ini beralih fungsi sebagai menara masjid. Di malam hari, lampu – lampu hias yang dipasang melingkari menara masjid ini akan menyala sehingga menara terlihat cantik. Jika ingin melihat masjid ini secara menyeluruh dari ketinggian bisa kita lakukan dengan mengunjungi Puncak Bukit Polan.

Menara Masjid Agung Nurul Iman di malam hari yang terlihat cantik dengan lampu - lampu hiasnya yang berpendaran
Menara Masjid Agung Nurul Iman di malam hari yang terlihat cantik dengan lampu – lampu hiasnya yang berpendaran

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Sempat bekerja selama 5 tahun sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply