Solo Touring Sumbar 1 : Cerita Pembuka
solo touring sumbar

Desember 2015 yang basah.  Mila, Adik sepupu saya mengikatkan tali cinta dengan kekasihnya melalui pernikahan. Suaminya yang bernama Alit berasal dari Jogja. Keduanya dipertemukan saat mereka kuliah di jurusan yang sama dengan saya. Teknik Kelautan ITS.

Acara pernikahan Mila dan Alit berlangsung di Padang, kampung halaman Mila yang juga saya akui sebagai kampung halaman saya. Meski saya dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta. Patutkah saya mengakui hal tersebut?

Saat mendapatkan undangan dari Mila, saya nyatakan siap untuk datang. Menyaksikan keduanya bersatu dalam ikatan yang suci.

Dua minggu sebelum berangkat ke Padang, saya mengajukan cuti panjang kepada atasan. Saya bisa melakukannya sebab pada periode Juli – September, saya mendapatkan tugas dinas di Pelabuhan Tenau Kupang. Pekerjaan ini mengharuskan saya kerja selama tujuh hari penuh, sebagai gantinya pihak perusahaan memberikan saya over time dan menambah jatah cuti saya.

Cuti saya disetujui, akhirnya saya bisa melenggang dengan perasaan lega menuju Padang Kota Tacinto. Saya bakal liburan lebih lama di kampung halaman.

Di hari keberangkatan menuju Padang, saya mengambil cuti setengah hari, sebab saya mengambil jadwal pesawat sore hari. Sebelum ke rumah, saya mampir dulu di toko kamera yang ada di kawasan Kemang untuk membeli SD Card dan pelindung LCD kamera.

Setibanya di rumah, saya langsung menyiapkan segala barang bawaan. Tiba – tiba saja bang Teguh, abang kedua saya, mengirimkan pesan kepada saya. Tumben sekali.

“Tur, kalau ke Padang nanti bawa perlengkapan buat naik gunung ya!” pesan dari Bang Teguh

“Mau kemana kita, bang?”tanya saya

“Gunung Singgalang”

Ajakan mendaki gunung dari Bang Teguh tentu saja saya sambut dengan senang hati. Akhirnya kami bisa mendaki berdua. Selama ini kami mendaki sendiri – sendiri, jadwal kami tak pernah serasi.

Soal pengalaman pendakian gunung, Bang Teguh jauh lebih berpengalaman. Tiga gunung berapi tertinggi di negeri ini telah didakinya. Pun dengan jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa telah dilaluinya. Sementara saya hanya terbatas pada gunung – gunung di Jawa saja, gunung yang bisa didaki pada akhir pekan. Pendakian terlama saya adalah 4 hari 3 malam, saat mencoba berdiri di puncak Mahameru. Adapun dengan gunung di Sumatera, hanya ada Gunung Dempo saja dalam daftar pendakian saya.

Pakaian, perlengkapan mendaki dan kamera, semuanya sudah siap. Saatnya saya berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta. Disana sudah ada Bang Eka dan istrinya yang telah tiba duluan.

Pesawat Batik Air yang kami naiki terbang mengudara menuju Padang. Perjalanan berjalan lancar, hanya dalam waktu 1 jam 30 menit kami telah tiba di Bandara Internasional Minangkabau.

Selanjutnya kami naik taksi menuju rumah Oma yang berjarak sekitar 25 kilometer dari bandara. Disana ayah, mama, bang Teguh serta keluarga besar lainnya siap menyambut kedatangan kami.

Acara pernikahan berjalan lancar dari proses akad, acara adat seperti babendi – bendi dari rumah bako hingga pestanya. Bahkan karena berlangsung menjelang Pilkada Sumbar, salah satu dari kandidat calon gubernur menjadi tamu di pesta ini.

Setelah acara pernikahan Mila dan Alit selesai, saya menemani Ayah, mama, Bang Eka dan Kak Nani keliling Sumbar seharian. Rutenya Padang – Lembah Anai – Bukittinggi – Puncak Lawang – Kelok 44 – Padang.

Dua hari setelah keliling Sumbar yang melelahkan itu, saya dan Bang Teguh dengan berboncengan menggunakan sepeda motor matic berangkat menuju Pandai Sikek. Dari sana kami akan memulai pendakian menuju Gunung Singgalang.

Cerita lengkap pendakiannya klik disini ya.

Pendakian Gunung Singgalang berjalan lancar, setelah kembali ke rumah oma, keesokan harinya Bang Teguh kembali ke Batam.

Dan kini tinggalah saya yang masih stay di Padang. Saya masih ada jatah libur 5 hari lagi, tentu saja tidak akan saya sia – siakan hanya di rumah oma saja.

Saya berencana untuk solo touring keliling Sumbar. Kebetulan motor matic punya Ceklok (adiknya mama) tak ada yang memakai.

Saya mulai putar otak untuk menyusun rute mana saja yang akan saya lalui selama solo touring selama 4 hari 3 malam ini.

Awalnya saya ingin memasukan Solok Selatan sebagai daftar tujuan dalam Solo Touring Sumbar ini, tapi perjalanan kesana amatlah jauh dan sudah menghabiskan banyak waktu.

Akhirnya setelah mengutak – atik rute, inilah rute yang akan saya tempuh

Hari Pertama : Padang – By Pass – Indarung – Sitinjau Laut – Alahan Panjang – Danau Kembar – Solok – Sawahlunto

Hari Kedua : Sawahlunto – Talawi – Batusangkar – Lembah Harau

Hari Ketiga : Lembah Harau – Kelok 9 – Bukittinggi – Matur

Hari Keempat : Matur – Lawang – Kelok 44 – Lubuk Basung – Padang

Bersambung ke Masjid Tuo Kayu Jao

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.