Jelajah Sumbar Part 2 : Masjid Tuo Kayu Jao

“hati – hati di jalan, Catur” ucap Oma ketika melepas saya pergi pagi itu

Saya harus berangkat sepagi mungkin agar sore nanti saya telah tiba di Sawahlunto. Rute hari ini adalah Padang – Sitinjau Laut – Alahan Panjang – Danau Kembar – Solok – Sawahlunto. Sebenarnya Sawahlunto bisa ditempuh dalam waktu 3 jam dari Kota Padang, namun ini adalah perjalanan santai, saya akan berhenti sesuka hati saya, di tempat – tempat yang sekiranya layak untuk disinggahi.

Dari Jalan Mohammad Hatta lalu by pass kemudian mengarah ke kanan di Simpang Indarung. Melewati pabrik semen kebanggaan Orang Minang, Semen Padang.

Kini saya telah berada di Sitinjau Laut, jalan berkelok – kelok karena jalan ini dibuat di pinggang Bukit Barisan. Hawa dingin mulai terasa memeluk tubuh, kabut tebal sedikit menganggu pandangan. Rintik – rintik air dari langit mulai jatuh, mulanya perlahan lalu menderas. Saya menepi di sebuah kedai kecil di tepi jalan.

Hujan perlahan mereda, saya kembali melanjutkan perjalanan dan melewati batas Kota Padang dengan Kabupaten Solok. Tak jauh dari batas kota itu tibalah saya di sebuah persimpangan, lurus ke Kota Solok sedangkan ke kanan menuju Alahan Panjang. Sesuai dengan rencana, saya mengambil arah kanan.

Singgah di Masjid Tuo Kayu Jao

Awalnya saya hanya merencanakan untuk mengunjungi Kebuh Teh Alahan Panjang dan Danau Kembar, namun pada saat memasuki Nagari Batang Barus, saya melihat sebuah gapura yang menandakan adanya sebuah cagar budaya yaitu Masjid Tuo Kayu Jao.

Gapura penunjuk adanya Masjid Tuo Kayu Jao

Tertarik untuk melihatnya saya memasuki jalan tersebut. Dari gapura, sekitar 800 meter kemudian saya melihat sebuah bangunan kayu berbentuk segi empat berdiri apik di antara perbukitan menjulang di sekelilingnya. Atapnya berundak dengan lambang bulan dan bintang menyembul di ujungnya menandakan bangunan ini adalah rumah ibadah. Inilah Masjid Tuo Kayu Jao.

Masjid Tuo Kayu Jao

“dari ma diak” tanya seorang takmir masjid yang saya temui ketika saya hendak mengambil wudhu

“dari Jakarta, Pak” jawab saya

“oh Jakarta, banyak juo urang dari Jakarta yang datang ka siko, keceknyo suasanayo tanang”

Memang benar, ketika saya tiba disini yang saya rasakan ialah ketenangan. Di samping masjid terdapat aliran sungai. Alirannya tak begitu deras namun sangat jernih. Saat suasana senyap gemirik air terdengar riuh sangat nyaman didengar.

Sungai kecil di samping Masjid Tuo Kayu Jao

Baca juga : Masjid Ummil Qura, Masjid Cantik di Tepi Danau Maninjau

Banguna Masjid Tuo Kayu Jao sangat unik, atapnya terbuat dari ijuk warna hitam dengan dinding dan lantai dari papan dibalut dengan warna hitam yang menambah kesakralan. Konon masjid ini dibangun pada 1599 yang menjadikannya sebagai salah satu masjid tertua di Sumatra Barat.

Masjid Tuo Kayu Jao digagas oleh Angku Imam yang bernama Musaur dan Angku Labai sekaligus sebagai bilal. Proses pembangunan dilakukan para warga secara gotong royong. Keberadaan masjid ini menjadi bukti bahwa sejarah Agama Islam di Sumatra Barat, khususnya Kabupaten Solok telah menyebar sejak abad ke-16.

Dari segi arsitektur, masjid ini mengalami asimilasi terhadap budaya Minangkabau, yakni Rumah Gadang. Atap masjid terbuat dari ijuk terdiri dari tiga tingkat yang membentuk seperti bangunan pagoda. Antara tiga tingkatan terdapat celah yang dibuat untuk pencahayaan.

Arsitektur lokal berupa Rumah Gadang terlihat di bagian mihrab, yang memiliki atap dengan bentuk berbeda, yakni berbentuk gonjong.

Arsitektur masjid ini penuh dengan makna, hal ini bisa kita lihat dari 27 tiang yang menyangga atap  masjid yang menandakan enam suku, yang masing – masing terdiri dari empat unsur pemerintahan ditambah dengan tiga unsur agam, yaitu khatib, imam, dan bilal.

Terdapat 27 pilar yang menopang atap masjid

Selain itu jendela sebanyak 13 pintu melambangkan rukun shalat. Anak tangga saat memasuki masjid berjumlah 5 undakan, melambangkan Rukun Islam.

Wah, ga nyesel deh saya menyempatkan singgah di masjid ini. Sepertinya jika saya mendapatkan waktu luang dan berkesempatan kesini kembali, saya akan mencoba I’tikaf atau bermalam disini. Karena memang suasananya sangat menenangkan bathin.

Bersambung.

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply