Masjid Ummil Qura, Masjid Tua Antik Bernuansa Hijau di Tepi Danau Maninjau

44 kelokan telah saya lalui, kalau dihitung dari Koto Gadang mungkin sudah ratusan kelokan baik yang menanjak maupun menurun telah saya libas. Kini saya tiba di sebuah persimpangan, jika ke kanan maka jalan tersebut akan menuntun saya menuju Lubuk Basung, Ibu Kota Kabupaten Agam. Sedangkan ke kiri? Saya tidak tahu sebab belum pernah melewatinya.

Rasa penasaran membuat saya memilih jalan ke kiri, sepertinya ada sesuatu yang menarik disana.

Baca juga : Berkunjung ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Setelah menempuh perjalanan sejauh 2,5 kilometer dari persimpangan tadi, di sisi kanan jalan, saya melihat sebuah masjid tua dengan desain arsitektur yang menarik. Masjid ini tepat berada di tepian Danau Maninjau.

Ummil Qura, itulah nama masjid yang menarik perhatian saya ini. Kata Ummil Qura berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti Ibu Negeri atau Pusat Nagari.

Sebuah papan berwarna putih terpasang di depan bangunan masjid, papan itu bertuliskan MESJID UMMIL QURA BANCAH MANINJAU 1907. Bancah merupakan nama desa tempat dimana masjid tua ini berdiri. Sedangkan angka 1907 sepertinya merujuk pada tahun pembangunannya. Artinya Masjid Ummil Qura ini sudah berusia lebih dari 100 tahun.

Sebuah papan yang bertuliskan nama masjid, desa dan awal tahun berdiri

Dilihat dari luar kita akan melihat bagian dasar masjid ini yang berbentuk segi empat dimana diantara pilar – pilarnya terdapat lubang – lubang melengkung di sepanjang sisi dindingnya.

Atap masjid tersusun empat tingkat yang nampak terlihat seperti pagoda diatasnya lagi masih ada 2 tingkat lainnya yang berbentuk payung. Di ujung atap yang berbentuk seperti payung tersebut terdapat bulatan – bulatan seperti tusuk sate yang di pucuk atasnya terdapat lambang bulan sabit.

Sama seperti halnya masjid tua yang berada di Ranah Minang, Masjid Ummil Qura juga memiliki kolam – kolam berada di tiap sisi masjid yang mengelilinginya. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan pada jaman dahulu di Ranah Minang jika anak laki – laki sudah berusia 7 atau 10 tahun maka akan tinggal di masjid atau surau selain itu masjid juga menjadi pusat aktifitas masyarakat. Di kampung – kampung kebanyakan masyarakat masih mandi, mencuci dan mengambil kebutuhan air bersih di masjid.

Tempat wudhu bersebelahan dengan Danau Maninjau

Ketika memasuki bagian dalam masjid Ummil Qura kita akan melihat Sembilan buah pilar yang menyangga atap dengan satu pilar yang berada di tengah – tengah ruangan. Bagian langit – langit masjid ini terbuat dari susunan bulan papan yang ditata sangat rapi dan rapat tanpa menyisakan lubang satu pun.

Bagian dalam Masjid Ummil Qura Bancah Maninjau

Dinding masjid ini juga dihiasi dengan kaligrafi yang diambil dari surat Al – fatihah dan petikan Qur’an Surat Al – baqarah ayat 46 yang memiliki arti “dan mintalah tolong kalian semua dengan melakukan sabar dan shalat. Sesungguhnya shalat adalah hal yang berat (untuk didirikan) kecuali atas orang – orang yang takut (terhadap Allah).

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply