Jalan -jalan ke Talago Gunuang Batusangkar

Pertengahan Februari 2016, saya dan Wilma beserta adik – adiknya berkesempatan untuk menjelajahi tempat – tempat menarik di Kabupaten Tanah Datar. Tempat pertama yang kami kunjungi ialah Home Industri Kiniko yang terkenal dengan kopi kawa dan sale pisang-nya. Setelah santai sembari menyeruput kopi kawa yang memiliki cita rasa unik itu, kami menuju spot selanjutnya yaitu Talago Gunuang Batusangkar.

Baca Juga : Icip – icip Kopi Kawa di Home Industri Kiniko

“tempat itu (Talago Gunuang) lagi ngehits di kalangan anak muda Batusangkar dan sekitarnya” kata Wilma

Saya pun mencari kata kunci Talago Gunuang Batusangkar di mesin pencari Google. Hasilnya, belum ada seorang pun yang menulisnya. Meski demikian foto – foto keindahan Talago Gunuang ini sudah banyak tersebar di sosial media Instagram.

“dari sini (Nagari Tabek Patah, tempat home industri kiniko berada) lumayan jauh, yakin mau kesana?” tanya Wilma

Dari Home Industri Kiniko kami menempuh perjalanan sejauh 30 kilometer menuju Talago Gunuang berada. Butuh sekitar 45 menit perjalanan untuk tiba di lokasi.

Sesampainya di Talago Gunuang, kami disambut dengan pemandangan berupa perbukitan yang dihiasi oleh rimbunnya hutan pinus, diikuti oleh rerumputan hijau serta sungai yang mengalir membuatnya seolah sedang berada di New Zealand.

“tempat ini memang indah” gumam saya dalam hati

Saya yakin banget kalau tempat ini dikelola dengan baik pastinya akan menjadi obyek wisata di Batusangkar yang menarik.

Talago Gunuang menyimpan potensi wisata yang menarik apabila dapat dikelola dengan baik
Talago Gunuang menyimpan potensi wisata yang menarik apabila dapat dikelola dengan baik

Bagaimana cara kesana? Hemm.. gimana ya jelasinnya. Soalnya di google juga belum ada nih, hahah.. #lalukeselek

Talago Gunuang ini terletak di Nagari Saruaso, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Jadi sesampainya di Kota Batusangkar  arahkan kendaraan menuju Nagari Saruaso nantinya diperjalanan akan menjumpai Situs Prasasti Saruaso. Lanjut terus melewati jalan yang relatif sempit dengan pemandangan kanan kiri berupa hutan pinus yang lebat, hutan pinus tersebut merupakan hasil reboisasi yang dilakukan pada tahun 1970an, gitu sih info dari warga. Nantinya kita akan menemui Situs Talago Gunuang yang merupakan makam pada masa megalithikum ditandai dengan nisan – nisannya yang terbuat dari batu, bentuknya unik karena melengkung dan panjang.

Dari Situs Talago Gunuang ini sudah dekat dengan lokasi yang hendak dituju, saat akan sampai tiap pengunjung akan dimintai uang sumbangan seikhlasnya kemudian kita akan melintasi jalan tak beraspal dan berbatu. Di ujung jalan itulah Talago Gunuang yang mana saya menyebutnya sebagai New Zealand-nya Batusangkar itu berada.

Seperti yang saya katakan diawal, umumnya pengunjung kesini lebih memilih menghabisi waktu di sungai namun kalau mau kesana lumayan juga, jika ingin mengendari sepeda motor harus menuruni bukit yang terjal. Jadi ketika itu kami lebih memilih berjalan kaki dan memarkirkan motor dekat gubuk yang dijaga oleh ibu gembala kerbau.

Untuk menuju ke sungai, kita harus menuruni bukit yang gersang ini, gag ada pohon tempat berteduh
Untuk menuju ke sungai, kita harus menuruni bukit yang gersang ini, gag ada pohon tempat berteduh

Setelah menuruni bukit, kami melewati pematang sawah. Sawah kala itu sedang dalam proses pembajakan sehingga banyak kerbau – kerbau yang lagi main berkubang lumpur. Dan akhirnya sampai juga kami di sungai yang eksis banget di Instagram ini namun sayangnya pada saat kedatangan kami sungainya sedang dalam keadaan berarus deras dan airnya berwarna coklat tidak hijau seperti yang saya lihat di Instagram.

Kalau di New Zealand banyak sapi disini banyak kerbau
Kalau di New Zealand banyak sapi disini banyak kerbau

Di sungai itu banyak sekali warga lokal yang sedang memancing ikan. Rasanya pengen ikutan karena kelihatannya asik.

Warga lokal sedang memancing ikan
Warga lokal sedang memancing ikan

Karena tak mendapatkan hasil sesuai dengan ekspektasi maka kami kembali ke tempat kami menaruh motor. Tak mudah, karena menuju sana harus menanjak serta saat itu cuaca sangat terik tanpa ada pepohonan buat berteduh. Untungnya saat itu kami telah siap dengan bekal air minum, jika tidak, bisa dehidrasi.

Akhirnya kami sampai lagi, kami berteduh di gubuk tempat gembala kerbau itu asik nongkrong. Sebelum beranjak pergi kami ngobrol – ngobrol dulu dengan mereka sembari nyanyi – nyanyi lagu minang populer seperti Bungo Cinto di Hati Putiah – Boy Sandy. Asik bener dah nih lagu.

Tepar habis jalan menanjak disertai dengan panas matahari yang menyengat
Tepar habis jalan menanjak disertai dengan panas matahari yang menyengat

Oke, itulah cerita pengalaman kami saat mengunjungi Talago Gunuang. Ada beberapa fakta yang harus kamu ketahui tentang Talago Gunuang

  1. Menuju lokasi, jalannya gag aspal
  2. Bawa persediaan air minum yang cukup, karena dari tempat naruh motor ke sungai lumayan jauh lho dan gag ada pohon jadi terik banget
  3. Ga ada yang jualan makanan, bawa bekal sendiri
  4. Kalau di New Zealand banyak sapi disini banyak kerbau
  5. Banyak sampah disekitar tempat naruh motor, karena memang belum ada yang mengurus jadi pengunjung banyak yang mengabaikan kebersihan.

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Sempat bekerja selama 5 tahun sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply