Cerita Dari Travel Bandara Minangkabau – Bukittinggi
travel bandara ke bukittinggi

2016 menjadi tahun dimana saya bersama Bang Rangga dan Agus mulai membangun Jelajah Sumbar. Di tahun itu saya sering kali pergi pulang Jakarta – Padang. Tiket pesawat masih murah, hanya dengan Rp 500 ribuan sudah dapat tiket Jakarta – Padang dan sebaliknya.

Saya juga mendapatkan voucher tiket pesawat dari tiket.com sebesar Rp 3 juta yang merupakan hadiah dari Detik Travel. Salah satu cerita yang saya tuliskan untuk Detik Travel menjadi cerita terbaik untuk tahun 2015. Voucher tersebut tentu saja saya belikan untuk pulang kampung.

Mengapa saya sering pulang kampung?

Mencari konten!

Itulah alasannya. Setelah sepakat untuk membangun Jelajah Sumbar, maka saya harus mengisi website yang masih baru ini dengan berbagai cerita penjelajahan di Sumbar.

Saya biasanya berangkat ke Padang dengan penerbangan paling malam. Tujuannya supaya besok pagi sudah mulai eksplore.

Meski keluarga saya tinggal di Padang, tapi seringkali saya memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi setibanya di Bandara Internasional Minangkabau.

Tidak ada transportasi umum yang menyediakan rute Bandara – Bukittinggi. Satu – satunya opsi ialah dengan jasa travel.

Ada beberapa travel yang melayani rute ini diantaranya Erte dan AWR. Mereka ialah travel resmi. Selain itu banyak juga travel liar yang mencoba peruntungannya di rute yang sama. Meskipun katanya hal tersebut sudah dilarang oleh otoritas bandara, namun masih saja ada yang nekat melakukannya. Ini sudah urusan perut, bung!

Saya adalah orang yang mudah sekali diajak bicara, sekalinya terhubung maka obrolan bisa berlanjut hingga waktu yang lama.

Perjalanan menuju Bukittinggi dari Bandara Internasional Minangkabau memakan waktu sekitar 2 – 3 jam. Apalagi perjalannya dilakukan di malam hari.

Inginnya sih tidur di jalan dan terbangun saat tiba di Bukittinggi.

Tapi hal tersebut susah dilakukan, sebab biasanya teman di perjalanan ini bakalan membuka obrolan. Dan obrolan tersebut hanya bisa terputus saat masing – masing diantara kami sudah tiba di tujuannya.

By the way, kenapa sih saya menulis artikel ini?

Saya hanya ingin berbagi cerita. Cerita yang saya dapatkan di perjalanan menuju Bukittinggi dengan mobil travel.

  1. Mengantar ke Lasi

Malam itu salah satu penumpang di travel adalah Riki. Ia lebih tua beberapa tahun dibanding saya. Ia adalah seorang pegawai bank ternama di Jakarta, sudah berkeluarga namun keluarganya lebih memilih tinggal di kampung.

Kampungnya ada di Lasi. Lasi adalah nama sebuah nagari/desa yang masuk ke wilayah Kabupaten Agam. Desa ini berada di kaki Gunung Marapi. Di Lasi ini terdapat usaha peternakan susu sapi perah, namanya Lasi Farm.

Lasi ini berjarak sekitar 14 kilometer dari Bukittinggi. Intinya desanya Riki itu ga searah sama Bukittinggi. Tapi sopir travel yang bertugas malam itu tetap mengantar Riki hingga ke Lasi. Saat tiba di Lasi saya melihat masih banyak umbul – umbul terpasang dalam rangka menyambut Ibu Puan Maharani yang kala itu menjabat sebagai Menko PMK.

Setelah Riki turun, Pak Sopir meminta saya pindah ke depan.

“pindah ka muko lah, bia ado kawan mangota” kata Pak Sopir

Saya pun menurutinya

“ondeh, iko Cuma nambah Rp 20 ribu mangantaan ke Lasi. Dari jalan gadang ka Lasi tu 10 kilometer, bolak baliak 20 kilometer. Minyak habih 2 liter. Indak masuak do!” curhat sang sopir

“kamu siapo namonyo” tanya Pak Sopir

“Catur” jawab saya singkat

“Hah, Catur! Ma ado urang Minang namonyo Catur” Pak Sopir mencimeeh saya.

Akhirnya saya pun tiba di Jalan Aster dan turun disini. Dan Pak Sopir dengan mobil Suzuki APV berwarna putih itu pun pergi dari pandangan

2. Pak PNS Pengadilan Negeri

Di lain waktu, teman perjalanan saya adalah seorang bapak – bapak yang sudah memasuki usia hampir pensiun.

Beliau bekerja di Pengadilan Negeri Lubuk Basung. Meski demikian ia tetap memilih untuk tinggal di Bukittinggi. Jarak dari rumahnya ke tempat beliau bekerja hampir 60 kilometer. Belum lagi harus melalui jalan yang berkelok – kelok. Dan diantaanya adalah Kelok 44.

“Apa gak pusing itu, pak?” tanya saya

“biasa saja, karena sudah terbiasa” jawab beliau

“mengapa gak tinggal di Lubuk Basung?” tanya saya lagi

“untuk apa? Saya sebentar lagi pensiun. Saya juga belum lama ditugaskan disana”

Travel pun tiba tepat di depan rumahnya. Si bapak turun dan segera memberi uang ongkos kepada sopir.

Normalnya ongkos travel Bandara ke Bukittinggi itu Rp 40 – 50 ribu. Si bapak pun memberi sopir Rp 50 ribu. Tapi sopirnya meminta tambahan Rp 10 ribu.

“hah, oto Avanza, panuah sasak penumpangnyo mintak pulo Rp 10 ribu” si bapak geram

“iyo, pak” kata si sopir

Si bapak langsung memberi sopir uang sebesar Rp 70 ribu

“daripada awak agiah Rp 60 ribu, rancak awak agiah Rp 70 ribu” dan si bapak itu pun segera memasuki rumahnya.

Travel yang saya tumpangi malam itu bisa dikatakan travel ilegal. Sopir travel ilegal mendapatkan penumpangnya dari jasa calo di bandara. Calo ini akan memungut bayaran tiap penumpang yang di bawa oleh si sopir. Mungkin itu alasan mengapa sopir ini meminta tambahan uang kepada si bapak. Supaya balik modal.

3. Menawari Hotel

Setelah Jelajah Sumbar mulai eksis. Saya dan Bang Rangga memiliki rencana untuk berekspansi membuka tour di daerah lain. Waktu itu Belitung menjadi tujuan kami.

Setelah selesai urusan di Belitung, kami kembali ke Jakarta dan langsung meneruskan perjalanan ke Bukittinggi. Sebab di saat yang bersamaan kami mendapatkan tamu dari Telkom Indonesia.

Tiba di bandara, kami langsung menghubungi Travel Erte. Beruntung buat kami, karena kami mendapatkan mobil yang sebentar lagi akan berangkat jadi tak perlu menunggu waktu yang lama.

Kami duduk di bangku paling belakang. Di bangku tengah ada seorang ibu yang membawa kedua anaknya.

Saya melihat si ibu ini lagi membuka aplikasi travel online. Rupanya ia sedang mencari hotel di Bukittinggi.

Kami saling berbisik

“wah ada peluang pitiah masuak, bang. Ayo kita tawari” kata saya

“ibu lagi nyari hotel?” kata saya membuka obrolan

“iya, masih belum dapat” jawab si ibu

“kalau weekend kayak gini memang susah dapat hotel di Bukittinggi apalagi dadakan”

“mungkin kami bisa bantu, ibu. Ibu mau menginap dimana?” Bang Rangga mulai ikut dalam pembicaraan

“Hotel Mersi, kayaknya bagus yang ini”

“iya, bu, ini hotel masih baru. Saya bisa bantu ibu biar dapat kamar, kami kan dari travel, ada kerja sama dengan hotel itu”

Dan si ibu pun setuju dengan penawaran kami. Bang Rangga langsung mengontak bagian resepsionis.

“Ibu, ini sudah di booking ya, ibu bisa bayar langsung ke kami, nanti kami temenin pas sampai hotel”

Tiba di hotel, Bang Rangga mengantar keluarga kecil ini ke resepsionis. Bisnis berjalan lancar. Dan dari transaksi ini kami mendapatkan keuntungan Rp 100 ribu. Lumayan kan buat bayar travel.

4. Penumpang hanya Saya dan Mama

Saya kembali ke Bukittinggi. Waktu itu urusannya untuk menghadiri acara nikahan Gandha, adiknya Bang Rangga.

Saya tidak sendiri melainkan bersama Mama yang saya ajak ikut serta. Kami terbang ke Padang dengan Citilink yang berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Sebelum terbang saya sudah menghubungi orang travel bandara. Dan mereka sudah konfirmasi untuk menunggu kami.

Saya dan mama di Bandara Internasional Minangkabau

Tiba di bandara, kami langsung disambut oleh sopir. Malam itu si sopir lagi kurang beruntung. Penumpangnya hanya saya dan mama saja. Meski demikian ia tetap mengantar kami hingga tiba di Bukittinggi.

“kalau mode iko penumpangnyo, indak rugi bagi?” tanya saya

“awak ko sekalian pulang, bisuak pagi awak baliak ke bandara mangantaan rombongan keluarga umrah” jawab si sopir

Itulah sebagian cerita saat saya menumpang mobil travel ke Bukittinggi. Saat di perjalanan, kalau memang sedang tidak lelah, coba perhatikan orang – orang sekitar anda. Ajak obrol sesekali, kalau nyambung bisa jadi teman perjalanan yang asik dan tidak membosankan.

Saya ingat pesan dari Film Animasi berjudul Shrek. “Dimana pun kamu berada, temukanlah teman”

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.