Cerita Kebaikan Jelajah Sumbar 1 : Pak Alam Mandeh

Pembukaan

Akhir pekan kemarin, saya menghabiskan waktu seharian untuk menyaksikan The Kindness Diaries secara streaming di Netflix.

Acara tersebut merupakan video dokumentasi perjalanan yang dilakukan oleh Leon Logothetis bersama teamnya. Saat ini The Kindness Diaries sudah memasuki season kedua. Di season kali ini, Leon bersama teamnya melakukan perjalanan dari Alaska menuju selatan hingga ke Argentina.

Ada yang berbeda dari dokumentasi perjalanan ini. Sebab dalam perjalanan ini Leon si pembawa acara tidak berbekal uang. Ia hanya bisa melanjutkan perjalanan atas bantuan kebaikan dari orang – orang asing yang ia temuinya.

Apabila orang baik tersebut ternyata benar – benar tulus dan menjalani kebaikan dalam kehidupan sehari – harinya yang sangat menginspirasi, maka Leon akan memberikan hadiah yang tidak terduga.

Inti acara ini adalah ingin memberi tahu pada orang di seluruh dunia bahwa Kebaikan itu masih ada hingga saat ini. Dan kebaikan dari satu orang akan memberikan kebaikan bagi orang lain dan seterusnya.

Saya telah selesai menyaksikan seluruh episode The Kindness Diaries yang berjumlah 13 episode itu. Setelah menyaksikannya, saya seperti mendapatkan ide untuk menuliskan cerita kebaikan orang – orang yang saya temui pada saat saya menjelajahi Sumatera Barat.

Berikut ini adalah catatan saya yang pertama.

Pak Alam Mandeh

Mei 2016. Hari itu cuaca begitu cerah. Saya dengan penuh semangat 25, memacu motor matic ke arah selatan dari Kota Padang. Tujuan saya waktu itu ialah Kawasan Wisata Mandeh yang seringkali dijuluki sebagai Raja Ampat-nya Sumbar.

Lebih 60 kilometer jarak yang harus saya tempuh untuk menuju kesana. Adapun waktu yang dihabiskan sekitar 2 jam.

Setibanya saya di Dermaga Carocok Tarusan, saya langsung memarkirkan kendaraan. Tiba – tiba saja datang seorang pria paruh baya dengan suaranya yang parau menghampiri saya.

“mau survey?” tanya bapak itu

“iya” jawab saya

“ayo ikut bapak ke rumah” ajak si bapak

Saya menurutinya. Rumahnya berada di ujung dari sebuah jalan, bersebelahan langsung dengan dermaga tempat dimana para wisatawan memulai perjalanannya menjelajahi Teluk Mandeh.

“duduk lah, nak. Nanti kamu ikut anak bapak ya! Kamu tak perlu bayar, ikut saja”

“darimana bapak tahu saya mau survey?” tanya saya

“itu, kamu pakai tas besar, sudah kelihatan lah kalau kamu mau survey”

Memang benar, saat melakukan penjelajahan keliling Sumbar saya selalu mengenakan tas berukuran 40 liter supaya dapat menampung kamera SLR beserta barang bawaan saya. Jarak antara tempat wisata di Sumbar itu bisa dikatakan saling berjauhan apalagi kalau beda kabupaten. Jadi kalau sudah keluar dari rumah untuk jalan – jalan, saya selalu membawa banyak perlengkapan dan itu bisa muat dengan tas 40 liter.

“tamu sudah datang, kamu siap – siap ya”

Di hari menjelang sore itu, Pak Alam mendapatkan tamu dari Lions Club, sebuah komunitas yang dikenal selalu berbagi kebaikan. Mereka baru saja menjalani pertemuan akbar di Kota Padang. Sebelum pulang ke asalnya masing – masing, sebagian dari mereka mengambil paket tour terlebih dahulu.

Tamu dari Lions Club yang menjadi tamu Pak Alam sore itu

Pak Alam tidak ikut serta menemani tamunya. Sore itu ia menugaskan Amri, anak laki – laki kebanggaannya yang diharapkan dapat terus menjalani usaha kapal wisata yang telah dibangun olehnya.

Amri tidak sendiri, ia ditemani oleh Adit yang waktu itu masih mungil banget.

Setelah semua tamu naik ke kapal, perjalanan dimulai. Destinasi yang dikunjungi pertama kali ialah Pulau Sironjong Ketek. Disini Adit melakukan atraksi cliff jumping. Tubuhnya yang mungil itu ia ajak melompat dari ketinggian 15 meter. Usaha Adit tidak sia – sia, sebab tamu yang merasa terhibur dengan atraksinya ini memberikannya uang yang jumlahnya lumayan untuk anak seusianya.

Adit, rekan kerja bagi Amri

Setelah itu kami mengunjungi Pulau Sutan lalu dilanjutkan ke hutan mangrove serta Air Terjun Gemuruh. Acara tour keliling Teluk Mandeh pun selesai, kami kembali ke Dermaga Carocok Tarusan.

Setelah menambatkan kapal, saya kembali ke rumah Pak Alam untuk berpamitan sekaligus berterima kasih karena saya jadi mengetahui apa saja yang ada di Teluk Mandeh. Namun Pak Alam melarang saya.

“tinggal dulu lah semalam disiko” pinta Pak Alam

Saya lagi – lagi mengiyakan Pak Alam. Malam itu saya akan menginap di rumahnya.

Setelah menaruh tas di kamar yang berada di loteng rumah, saya ngobrol – ngobrol dengan Amri.

Saat itu ia sedang duduk di bangku SMA. Di hari kerja, ia menjadi siswa seperti biasanya. Di akhir pekan atau tanggal merah ia harus bersiap untuk menjadi kapten kapal, membawa tamu keliling Teluk Mandeh.

Saya bertanya kepada Amri, mengapa kapalnya dinamakan RADI?

“RADI itu singkatan dari Ridho Allah Dengan Ikhlas, bang” jawab Amri

Sedang asik ngobrol, datang si mungil Adit, ia membawa segelas es campur untuk saya dan Amri.

“pakai uang hasil lompat tadi, bang” kata Adit

Saya terenyuh, bagaimana mungkin si mungil Adit ini mentraktir saya yang secara keungan jauh lebih baik di atasnya.

Obrolan kami berakhir tatkala Pak Alam memanggil kami

“Hoooi Catur! Mandi lah!” seru Pak Alam dengan suaranya yang lantang

Selesai mandi, saya disuguhkan makan malam dengan lauk ikan laut yang saya tak tahu jenisnya apa. Yang jelas rasanya enak banget. Mungkin karena ikannya digoreng masih dalam keadaan segar.

Setelah itu saya duduk – duduk di kedai, ikut ngobrol dengan Pak Alam bersama rekan – rekannya. Sebagai teman ngobrol saya dibuatkan Teh Telur panas yang pas banget diseruput sembari menikmati angin malam pesisir.

Salah satu tema obrolan malam itu ialah isu jalan baru dari Padang ke Mandeh. Jalan tersebut mulai dari Bungus, Sungai Pisang, Sungai Nyalo dan tembus hingga ke Puncak Mandeh. Jalan baru ini akan membentang sejauh 41 kilometer dan akan dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Tujuan dari didirikan jalan ini untuk mempermudah dan mempercepat akses bagi wisatawan yang hendak ke Mandeh.

“yang saya khawatirkan nanti, entah itu di Sungai Pisang atau di Sungai Nyalo akan ada orang – orang kapal lain yang mencegat wisatawan untuk sampai kesini”

Sebagai informasi, Jalan baru ke Mandeh ini akhirnya selesai dibangun dan diresmikan pada Maret 2019 atau 3 tahun setelah kunjungan saya ke rumah Pak Alam.

Saya pernah menjajalnya bersama Bang Rangga. Kondisi jalan sangat mulus, penuh dengan kelokan namun pemandangan sepanjang jalan sangat Indah. Tapi ada satu catatan, jalan ini tidak direkomendasikan untuk bus!

Sehingga bagi saya kekhawatiran Pak Alam 3 tahun lalu itu cukup berlebihan, karena tamu – tamu yang menggunakan bus akan tetap melalui jalan biasa.

Baca juga : Menjajal Jalan Baru Ke Mandeh

Kembali lagi ke cerita

Malam itu saya terlelap di kamar loteng ini, angin malam pesisir menjadi obat tidur saya yang hari itu begitu lelah.

Pagi hari saya mendapatkan sarapan. Dari kemarin tiba di Mandeh saya belum mengeluarkan uang sama sekali atas kebaikan Pak Alam dan keluarganya.

“Catur, hari ini bapak ada tamu, ia nanti mau ke Kapo – kapo, mau ikut lagi?”

Sayang saya tidak bisa menurutinya kali ini, karena mendadak Bang Tri (abang saya yang ketiga) memberi kabar kalau pagi ini ia akan terbang ke Padang untuk menyusul saya.

Saya pun berpamitan kepada Pak Alam dan keluarga, Saya berjanji kelak akan memberikan tamu untuknya.

Dan itu baru terwujud satu tahun kemudian, ketika itu kami mendapatkan kepercayaan dari Keperawatan Rumah Sakit Haji Jakarta. Salah satu agenda tournya adalah jelajah Teluk Mandeh yang dilakukan di hari pertama tour.

Tamu dari Divisi Keperawatan Rumah Sakit Haji Jakarta, mereka menjadi tamu pertama yang berhasil kami bawa untuk Pak Alam

Setelah itu terus berdatangan tamu – tamu yang ingin menjadikan Mandeh sebagai tujuan tournya. Dan kami selalu mempercayakan kepada Pak Alam untuk mengantarkan tamu kami untuk destinasi ini. Beliau melayani tamu Jelajah Sumbar dengan sangat baik.

Perjumpaan Terakhir

Saya berjumpa terakhir dengan Pak Alam pada September 2018

Waktu itu Saya bersama teman – teman satu kampus sedang ada acara gathering di Kapo – kapo. Namun waktu itu yang mengantar kami dari Dermaga Carocok Tarusan ke Kapo – kapo bukan Pak Alam.

Pak Alam baru datang keesokan harinya untuk menjemput kami. Ia datang ke Kapo – kapo membawa sarapan pesanan kami.

Saat itu ia melihat tidak ada saya di kedai untuk sarapan. Oleh bang Rangga, Pak Alam diberitahu kalau saya ada di kamar homestay karena sedang kurang enak badan.

Pak Alam langsung menemui saya yang saat itu sedang berkemul di bawah selimut.

“Catur! Makan wak lai!” Kata Pak Alam, masih dengan suaranya yang lantang

“nanti saja lah, Pak, lagi pusing” kata Saya

Pak Alam langsung mengeluarkan minyak angin andalannya, ia mengusapkan minyak angin itu ke beberapa titik di kepala dan lengan saya sambal sesekali ia menekan dengan kuat dibagian tersebut.

“angin iko tur”

“iyo, pak. Kurang tidur dari semalam”

Ajaib! Saya langsung merasa lebih enakan setelah mendapatkan perawatan dari Pak Alam. Saya langsung ke kedai, bergabung dengan yang lain untuk sarapan.

Pak Alam Telah Tiada

Tahun 2019 saya hanya sekali kembali ke Padang. Hal itu dikarenakan mahalnya tiket pesawat, membuat saya sulit untuk kembali pulang.

Hal itu juga berimbas kepada jumlah tamu kami yang berkurang. Pun dengan tamu – tamu kami yang ingin ke Mandeh. Meski demikian komunikasi kami tetap berjalan dengan baik.

Kami masih saling bertukar kabar satu sama lain. Hingga pada 10 Maret 2020, kami mendapatkan kabar dari Istri Pak Alam, bahwa suaminya telah meninggal dunia.

Saya begitu sedih mendapatkan kabar tersebut, terlebih posisi saya saat itu sedang di Jakarta dan tentu saja saya tidak bisa berjumpa dengan Pak Alam untuk yang terakhir kalinya. Meski demikian rasa sedih saya sedikit terobati karena kehadiran saya telah diwakilkan oleh Bang Rangga dan Agus yang datang jauh – jauh dari Bukittinggi ke Mandeh untuk melayat.

Bagi kami Pak Alam sudah seperti keluarga. Dan sedih rasanya telah kehilangan beliau. Saya teringat kembali pada masa – masa awal mendirikan Jelajah Sumbar. Pertolongannya kala itu benar – benar sangat membantu kami.

Kami jadi bisa menyusun Paket Tour Padang beserta Tour Mandeh dengan baik dan bisa dikatakan paket tour tersebut adalah yang paling banyak dipilih oleh tetamu kami.

Terima kasih Pak Alam. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya.

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.