Takjub Menyaksikan Kemegahan Masjid Raya Sumatera Barat
masjid_raya_sumbar

“I want to pray at grand mosque, Catur” kata Mr. Friedland di tengah perjalanan dari Bukittinggi menuju Kota Padang.

Kami pun memenuhi keinginannya. Usai makan siang di Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman, kami beranjak menuju Masjid Raya Sumatera Barat yang berada di Jalan Khatib Sulaiman. 10 menit kemudian kami tiba di area parkir masjid, menepikan kendaraan.

Baca juga : Makan Enak di Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman

“wow, it’s very wonderful, this is the biggest mosque that I’ve ever seen” ucap Mr. Friedland yang begitu takjub menyaksikan kemegahaan dan keindahan masjid kebanggaan orang Sumatera Barat ini.

Masjid Raya Sumatera Barat mulai dibangun pada 21 Desember 2007, sampai saat ini masih dalam tahap pembangunan terutama di bagian taman. Masjid ini semakin cantik, dengan kehadiran menara setinggi 85 meter yang masih dalam tahap penyelesaian. Menara ini nantinya direncanakan sebagai destinasi wisata dan akan dibuka untuk umum akhir 2018 atau awal 2019 setelah proyek itu benar – benar selesai.

menara_masjid
Befoto dengan latar menara masjid setinggi 85 meter

Masjid Raya Sumatera Barat berdiri di atas lahan seluas 40.343 meter persegi, memiliki bentuk persegi yang melancip di keempat penjurunya. Ini melambangkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad dengan memegang masing – masing sudut kain. Bentuk sudut lancip tersebut sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau.

Bangunan masjid terdiri dari tiga lantai. Bagian bawah masjid digunakan sebagai tempat wudhu. Lantai dua merupakan ruang utama yang digunakan sebagai ruang salat yang terhubung dengan teras terbuka yang melandai ke jalan.

Taman di sekitar Masjid Raya Sumatera Barat yang masih dalam tahap penyelesaian

Pada dinding eksteriornya terdapat ukiran khas minang dan kaligrafi yang semakin menegaskan nuansa ada Minangkabau di bangunan ini.

Ukiran khas Minang di bagian eksterior masjid

Meski berkonsep rumah adat, masjid ini berdiri dengan megah, pembangunannya menelan dana hingga lebih dari Rp 200 miliar. Hal ini dikarenakan, struktur bangunan yang dibuat tahan terhadap gempa.

Usai berwudhu kami menaiki tangga ke lantai dua untuk menunaikan shalat. Ruang shalat masjid ini walau tidak berpendingin udara namun begitu sejuknya meskipun udara di Kota Padang saat itu sedang panas – panasnya. Ventilasi udara yang bagus pada bangunan ini membuat jamaah menjadi nyaman berada di dalamnya.

Selesai shalat, kami mengelilingi area sekitar masjid, berfoto dengan latar masjid yang merupakan cerminan akulturasi budaya dan agama di Indonesia. Masjid ini memang selalu membuat takjub siapapun yang memandangnya.

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Sempat bekerja selama 4 tahun sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang kontruksi bangunan lepas pantai. Kecintaanya terhadap kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumbar sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply