26,5 Jam Dari Kota Padang Menuju Medan Bersama Bus NPM Vircansa 08 – Shamande
bus npm padang medan

NPM adalah akronim dari Naikilah Perusahaan Minang, ia adalah Perusahaan Otobus yang berasal dari Padang Panjang, Sumatera Barat. Salah satu rute yang dimiliki oleh PO NPM adalah Padang – Medan PP. Nah, pada tulisan ini saya akan menceritakan perjalanannya.

Awalnya saya tidak mengira akan melakukan perjalanan dari Padang ke Medan dengan menggunakan bus. Biasanya kalau mau kesana atau sebaliknya saya naik pesawat, jadi waktu tempuhnya bisa lebih cepat. Kira – kira hanya butuh 1 jam penerbangan saja.

Namun, Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal Maret hingga saat saya menulis cerita ini berpengaruh pada bisnis maskapai penerbangan. Biasanya ada maskapai yang melayani rute Padang – Medan secara langsung. Namun karena si coro corona ini, maskapai memilih menutup sementara rute ini.

Kalau saya tetap mau naik pesawat ke Medan, maka saya harus beli tiket pesawat yang transit ke Batam terlebih dahulu, lalu lanjut ke Medan. Tentunya harga tiket pesawat ini jadi lebih mahal dari biasanya. Apa lagi yang nyediain hanya si Singa Merah yang sejak setahun yang lalu meniadakan fasilitas bagasi gratis padahal barang bawaan saya cukup banyak.

Jadi apa boleh buat, dengan hati legawa saya harus menaiki bus untuk menuju Medan dari Padang.

Rute Padang Medan cukup diminati oleh berbagai PO Bus selain NPM ada trio PO Bus dari Aceh yang melayani rute ini yaitu Kurnia, Sempati Star dan Putra Pelangi. Selain itu ada juga ALS (Antar Lintas Sumatera). Mereka saling bersaing merebut penumpang di rute ini. Tapi sepertinya tiap PO bus sudah punya penggemarnya masing – masing.

Dari Padang ke Medan terdapat dua rute yang bisa dilewati yaitu rute via Pekanbaru dan rute via Danau Toba. NPM bersama trio Aceh memilih untuk melewati Pekanbaru sedangkan hanya ALS sajalah yang melewati Danau Toba.

Kalau kita lihat perbandingan waktu dan jarak tempuhnya di google maps, maka rute yang melalui Danau Toba lah yang memiliki waktu tercepat dan rute lebih pendek. Hanya saja jalan yang harus dilewati lebih sempit dan lebih ekstrim. Ga percaya, cobain aja naik ALS Padang Medan atau sebaliknya. Kalau saya sih belum pernah. Cuma lihat video trip reportnya di YouTube.

Oke balik lagi ke cerita perjalanan sama bersama NPM Padang Medan

Jadi seminggu sebelum keberangkatan saya sudah memesan tiketnya melalui aplikasi RedBus. Harga tiket NPM Padang Medan untuk kelas executive adalah Rp 250 ribu, tapi berhubung di RedBus ini lagi ada promo bagi pengguna baru, maka saya dapat diskon sebesar Rp 20 ribu, jadi cuma bayar Rp 230 ribu.

Oh ya, jadwal keberangkatan bus NPM Padang ke Medan adalah jam 10.00, adapun tempat kumpulnya ada di Pool Bus NPM Padang di Jalan Djuanda yang bersebelahan dengan Hotel Pangeran Beach.

Saya datang 30 menit sebelum jadwal pemberangkatan. Suasana di pool bus NPM nampak ramai, wajar aja soalnya ini kan hari minggu, jadi banyak orang yang pulang kembali ke kotanya masing – masing.

Saat itu ada 3 bus yang akan diberangkatkan yaitu 2 bus tujuan Jakarta dan Bandung dan satunya lagi adalah tujuan Medan – Binjai yang akan saya naiki.

Eh tapi kok tampilan bus saya beda sama bus tujuan Jakarta – Bandung ya?

Kalau bus untuk tujuan Jakarta – Bandung tampilannya begitu apik, chassis dari Mercedes Benz berbalutkan bodi dari karoseri buatan Laksana dengan tipe Legacy Sky SR2 HD.

Lah kalau bus NPM Padang Medan kok kelihatan lebih jadul. Chassis-nya Golden Dragon dari China, karoserinya dari Tentrem Malang dengan tipe Scorpion King. Di kaca bagian depan terpasang tameng yang menjadi ciri khas bus di Pulau Sumatera.

Bus NPM yang akan menjadi teman perjalanan saya sampai ke Medan ini ialah NPM Vircansa 08. Nah biasanya bus – bus dari Sumbar itu punya gelar masing – masing, untuk bus NPM Vircansa 08 ini namanya Shamande.

Saya berpose dengan latar NPM V08 – Shamande

Krew yang bertugas melayani penumpang hingga Medan – Binjai ada Pak Afrizal yang akrab dipanggil Bang TeJe sebagai driver pertama, Bang Loren sebagai driver kedua dan Bang Indra sebagai stokar.

10 menit sebelum keberangkatan, penumpang tujuan Medan di panggil satu per satu untuk menaiki bus. Ternyata hanya ada 7 penumpang saja yang berangkat dari sini.

interior bus npm padang medan
Interior NPM Vircansa 08 – Shamande

Tepat jam 10.00, bus mulai bergerak meninggalkan pool-nya. Dari balik kaca saya lambaikan tangan ke mama yang melepas anaknya seorang diri menuju Medan.

Sedih rasanya meninggalkan kampung halaman dan mama, tapi di satu sisi saya juga ada tanggung jawab sebagai suami dan ayah, saya harus menjumpai mereka yang saat itu menetap sementara waktu di Lhokseumawe. Untuk itulah mengapa saya harus ke Medan. Nantinya setelah sampai Medan saya akan melanjutkan perjalanan menuju Lhokseumawe.

Baru berjalan sebentar atau tepatnya saat melintasi jalan di depan Universitas Negeri Padang, bus berhenti, rupanya ada penumpang yang tertinggal.

Kemudian bus terus melaju melewati perbatasan antara Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Lalu bus berhenti lagi di agen Lubuk Alung untuk menaikan penumpang dan paket yang salah satunya adalah anak – anak ayam yang akan diantar ke Kandis, Riau.

Video perjalanannya bisa dilihat di bawah ini ya

Video Part 1 (Pool NPM Padang – Kayu Tanam)

Dari Lubuk Alung lanjut lagi ke Sicincin, lalu Kayu Tanam dan memasuki kawasan Cagar Alam Lembah Anai. Setelah melewati Air Terjun Lembah Anai, jalan menanjak dan berkelok – kelok, nah disini rasanya tarikan busnya agak kurang kuat, soalnya bus ini langsung disalip oleh Bus Yoanda Prima yang dengan entengnya melibas tanjakan di Lembah Anai.

Baca juga : Air Terjun Lembah Anai, Obyek Wisata Pertama yang Biasa Dikunjungi Wisatawan

Keluar dari Lembah Anai, selanjutnya adalah Kota Padang Panjang. Disini bus berhenti di Terminal Bukit Surungan untuk kembali menaikan penumpang dan paket. Selain itu disini juga ada sedikit perbaikan pada sound system sebab suara bass-nya gak kedengaran. Padahal Bang TeJe itu kalau lagi nyetir sukanya nyetel musik.

Dari Padang Panjang lanjut lagi mengarah ke Bukittinggi. Alhamdulillah, perjalanan begitu lancar. Simpang Padang Luar yang biasanya macet kali ini agak lengang.

Jam 12.45 bus memasuki Terminal Aur Kuning Bukittinggi, di terminal ini sudah ada Bus Family Raya tujuan Jambi serta Bus Sempati Star tujuan Medan.

Melihat bus Sempati Star dengan chassis Mercedes Benz 1626 dan kursi penumpang yang hanya berjumlah 28, membuat saya sedikit menyesal memilih NPM ini. Tapi penyesalan tidak ada artinya di perjalanan ini.

Tepat jam 13.00, bus keluar dari Terminal Aur Kuning dan melanjutkan perjalanan ke arah Payakumbuh. Namun hanya 15 menit berjalan, bus kembali berhenti di Toko Oleh – oleh Sanjay Sasuai untuk memberikan kesempatan pada para penumpangnya buat sholat dan buang air.

Video part 2 (Kayu Tanam – Bukittinggi)

Setelah 30 menit istirahat, bus kembali melanjutkan perjalanan. Saya paling suka dengan kondisi jalan dari Bukittinggi ke Payakumbuh sebab jalannya didominasi dengan jalan lurus dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Di kiri jalan ada pemandangan hijaunya Bukit Barisan sedangkan di kanan jalan ada persawahan dengan panorama Gunung Marapi. Tapi jalan yang lurus ini bikin mata cepat ngantuk dan saya tertidur hingga terbangun kembali saat bus berhenti di agen Payakumbuh.

Lanjut lagi dari Payakumbuh, lalu melintasi jalan Tan Malaka yang tembus ke Jalan Sumbar Riau. Bus terus melaju melewati Sarilamak yang merupakan pusat kota dari Kabupaten Lima Puluh Kota.

Jam 15.00 bus berhenti di Rumah Makan Mak Mawi, akhirnya saya bisa makan siang. Disini saya memakan bekal dari mama ditambah dengan Soto Padang seharga Rp 10 ribu sebagai penambah selera.

Setelah istirihat selama 45 menit, bus kembali melanjutkan perjalanan ke arah Riau. Nah disini salah satu keseruannya sebab bus akan melintasi jembatan kelok Sembilan. Wah keren banget deh.

Usai melewati Jembatan Kelok Sembilan, ternyata kelokannya makin banyak. Membuat saya sedikit pusing dan memilih untuk tidur. Saat terbangun kembali bus telah memasuki wilayah Provinsi Riau. Inilah pertama kalinya saya melintasi Provinsi Riau.

Video Part 3 (Bukittinggi – Kelok Sembilan)

Jam 18.30, bus berhenti di masjid yang bersebelah dengan kantor Wijaya Karya untuk project pembangunan Tol Padang Pekanbaru seksi Payakumbuh – Bangkinang. Saatnya sholat maghrib yang dijamak dengan isya.

15 menit kemudian lanjut jalan lagi ke arah Pekanbaru.

Jam 19.15 bus memasuki Kota Bangkinang yang merupakan ibukota dari Kabupaten Kampar, Riau. Disini bus sempat memasuki terminal Bangkinang, tapi tidak lama , hanya sekedar melapor ke petugas.

Bang Indra sedang melapor kepada petugas di Terminal Bangkinang

Ternyata bus ini tidak memasuki pusat kota Pekanbaru, sayang sekali sebab saya ingin melihat walau hanya sekilas ibukota Provinsi Riau ini.

Bus terus melintas Jalan Lintas Sumatera, kemudian memasui Jalan Tol Pekanbaru – Dumai yang baru diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 25 September 2020. Tol ini memiliki panjang lintasan 131 kilometer yang terbagi menjadi 6 seksi.

Nah Bus NPM Padang Medan ini hanya menggunakan ruas tol Permai ini hanya sampai Duri Utara saja. Namun saat di Interchange Kandis Utara, bus keluar dari tol untuk singgah di Rumah Makan Tuah Sakato Kandis.

Istirahat di Rumah Makan Tuah Sakato Kandis, Riau

Bus tiba di rumah makan itu tepat jam 23.00, saya melihat Bang Indra mengeluarkan paket berisi anak ayam dari Lubuk Alung. Wah kasihan juga itu anak ayam di dalam bagasi selama 12 jam.

Menaiki bus AKAP yang jaraknya jauh membuat jam makan kita berangtakan. Tadi makan siang di Rumah Makan Mak Kawi jam 15.00, nah sekarang makan malam jam 23.00. Mau makan ngantuk, tapi kalau gak makan nanti bisa kena masuk angin.

Untunglah mama menyiapkan dua bekal untuk saya. Satunya telah saya makan di RM Mak Kawi. Dan satunya lagi saya makan disini. Seperti waktu di RM Mak Kawi, saya menumpang makan di kedai yang ada di depan RM Tuah Sakato. Saya memesan Pop Mie sebagai penambah selera dengan harga Rp 8 ribu.

15 menit lagi, hari akan berganti. Bus pun melanjutkan perjalanan, kali ini posisi driver kembali diambil alih oleh Bang TeJe. Meski ini sudah tengah malam, namun hobinya menyetel musik tidak ditinggalkannya.

Sound system kembali bekerja mengeluarkan suara dari playlist yang berasal dari flashdisk yang tertancap di MP3.

Singkek alah diuleh

Sayuik alah disambuang

Tiok dijuluak tak sampai juo

Usah balamo adiak pandangi

Kalimpatan mato jadinyo

Lagu berjudul Panek Diawak Kayo Diurang ciptaan Uda Rozac Tanjung yang dinyanyikan secara duet oleh Frans dan Fauzana ini menjadi lagu pembuka. Sepertinya lagu yang menceritakan tentang usaha sepasang kekasih dalam menghadapi kenyataan hidup ini sedang menjadi top playlist di tiap bus yang berasal dari Sumbar. Atau mungkin bus seantero Sumatera.

Bus kembali memasuki jalan tol dari gerbang Kandis Utara, dan kembali keluar saat di interchange Duri Utara.

Video Part 4 (Riau)

Memasuki Wilayah Sumatera Utara

Saya pun tertidur dan kembali terbangun saat bus berhenti di masjid yang ada di tepi jalan wilayah Rantau Prapat. Bang Indra membangunkan para penumpang untuk sholat shubuh.

Saat bus meninggalkan masjid dan melanjutkan perjalanannya, saya kembali ke alam mimpi. Lumayan bisa dapat tambahan tidur selama 2 jam. Saat terbangun hari sudah terang. Saya tidak tahu bus sudah ada dimana sebab sinyal tri tidak ada disini.

Bus melintasi jalan yang di kanan kirinya adalah perkebunan sawit yang amat luas. Tidak ada pemandangan yang menarik lagi.

Jam 08.00 di hari kedua, bus berhenti di Rumah Makan Bundo Sari Baru yang juga merupakan perwakilan NPM di Kisaran. Lokasinya bersebelahan dengan Pool Bus ALS Kisaran.

Istirahat di Rumah Makan Bundo Sari Baru Kisaran

Karena bekal dari mama sudah habis maka saya ikut antrian untuk memesan sarapan. Nasi dijatah satu cidukan, tapi lauknya bebas memilih. Setelah mengambil nasi, saya ambil lele goreng tepung sebagai lauknya. Lalu sedikit mengambil kuah gulai dan sambal sebagai penambah selera. Saya tidak berani mengambil lauk lainnya karena takut kaget waktu bayar. Hehe..

Makan usai, ternyata untuk sarapan ini saya menghabiskan Rp 20 ribu. Harganya cukup standar lah untuk sebuah rumah makan di lintas Sumatera.

Jam 08.45, bus kembali berjalan.

Kali ini tak banyak yang bisa saya ceritakan sebab pemandangan di perjalanan sudah tidak menarik lagi. Sawit, sawit, dan sawit lagi. Tapi sesekali diselingi oleh kebun karet.

Jam 11.00, memasuki wilayah Kota Tebing Tinggi. Di kota ini tertancap tugu Adipura dan yang menarik perhatian saya adalah Masjid Agung Kota Tebing Tinggi.

Jam 11.25, bus masuk tol melalui gerbang tol Tebing Tinggi. Nantinya bus keluar di Lubuk Pakam lalu masuk tol lagi dan keluar lagi di Amplas dan artinya saya telah sampai di Medan.

Tepat jam 12.30 bus sampai di Pool Bus NPM Kota Medan yang ada di Jalan Sisingamangaraja. Dan saya turun disini untuk kembali melanjutkan perjalanan dengan taksi online ke arah Ring Road atau Jalan Gagak Hitam dimana bus – bus tujuan Aceh banyak yang mangkal disana.

Selesai.

Video Part 5 (Sampai di Medan)

About Author

client-photo-1
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Dian P
December 24, 2020
Bantal sama selimutnya ada bang ? Soalny pas saya tanya k Pool d jwab "tergantung supir d sediakan atau tidak". Saya juga akan k medan hari sabtu.
January 5, 2021
Waktu saya naik V08 Shamande ini ada bantal tapi gag ada selimut

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.