Dalam Pelukan Dinginnya Musim Semi di Seoraksan National Park

I’m never gonna say goodbye

Cause I never wanna see you cry

I swore to you my love would remain

And I swear it all over again and I

Lagu berjudul I swear it again yang dinyanyikan oleh Westlife terdengar ketika saya sedang asik menyantab makan siang di warung steak favorit saya. Entah mengapa setiap kali mendengar lagu ini saya selalu teringat dengan perjalanan saya ketika mengunjungi Seoraksan National Park, Korea Selatan beberapa waktu silam.

Rasanya badan ini masih amat lelah, sebab dua hari sebelumnya saya berangkat dari Jakarta menuju Incheon dengan menggunakan Pesawat Garuda Indonesia yang berangkat jam 11 malam, yang mana ketika itu saya langsung ke bandara usai jam kerja (ga pake mandi -,- )

Setibanya di Incheon, saya beserta peserta tour lainnya langsung menuju Gyeonbokgung Palace lalu ke sebuah pulau buatan yang amat terkenal di Korea bernama Nami Island. Di hari pertama ini, kami menginap di Ilsung Jongdo Resort dimana dari Nami Island dibutuhkan waktu 3 jam perjalanan.

Tabuh berbunyi gemakan alam sunyi, berkumandang suara adzan (peristiwa shubuh – Raihan)

Tapi ini Korea, pagi itu tetaplah hening yang terdengar hanya suara desingan dari mobil – mobil yang melintas di jalan tol yang tidak begitu jauh dari resort tempat saya menginap. Meski masih ngantuk, lelah dan harus berhadapan dengan suhu yang sangat dingin, shalat shubuh harus ditegakkan.

Usai shalat shubuh, saya seperti merasakan adanya energi tambahan yang menghilangkan rasa lelah. Saya siap untuk hari kedua! Perlahan gelap mulai disapu oleh terang. Dari balkon kamar, terlihat hamparan Pegunungan Taebaek yang pada bagian puncaknya masih terdapat salju. Ini pertama kalinya saya melihat salju, meskipun dari jauh.

Ilsung Condo Resort
Pemandangan dari balkon kamar

Menuju Seoraksan National Park

Usai sarapan, saya bersama peserta tour Korea Delight by Antavaya bergegas masuk ke dalam bus untuk menuju Seoraksan National Park yang merupakan salah satu dari 22 taman nasional yang dimiliki Korea Selatan. Luar biasa ya, padahal luas Negeri Ginseng ini 100,210 km2 atau hanya sekitar 1/20 dibandingkan Indonesia, tapi ia memiliki taman nasional sebanyak itu. Bandingkan dengan Indonesia yang “hanya” memiliki 51 taman nasional.

Sakilo (Sakilek Info) tentang Seoraksan National Park. Taman nasional ini berada di Gangwon-do, dekat dengan Sokcho tapi jauh banget dari Joglo. Pada tahun 1982 taman nasional ini dijadikan distrik perlindungan biosfir oleh UNESCO. Kalau di Indonesia taman nasional yang berstatus sama seperti Seoraksan ini contohnya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Seoraksan National Park memiliki luas 37300 Ha atau 6 kali lebih luas dari Taman Nasional Gunung Merbabu.

Baca Juga : Taman Nasional Gunung Merbabu

Well, hanya 15 menit perjalanan dari Ilsung Jondo resort kami telah tiba di pintu masuk Seoraksan National Park. Karena saya mengikuti tour dari Antavaya, saya ga perlu sibuk antri membeli tiket masuk, semuanya sudah diatur dan saya cuma tahu beres aja.

Saya begitu takjub ketika mulai memasuki area taman nasional ini, semuanya tertata dengan baik, tidak ada sampah, tidak ada orang yang merokok. Semuanya bersih. Baru masuk saja tangan sudah gatal untuk segera memotret suasana yang ada disini.

Seoraksan National Park
Hai 4 derajat celsius

Rombongan kami sempat berhenti untuk melihat pohon pinus yang disebut sebagai pohon pinus tertua di Korea.

Pohon Pinus di Gunung
Pohon pinus tertua di Korea

Setelah itu rombongan berjalan bersama menuju  kuil Singheunsa yang merupakan kuil yang digunakan oleh umat Budha. Di kuil ini terdapat patung Budha berukuran raksasa yang terbuat dari perunggu. Tapi, saya tidak ikut kesana. Saya lebih memilih menunggu di luar kuil sembari foto – foto pegunungan dan pohon – pohon yang saat itu sedang ditinggal oleh daunnya.

Ketika yang lainnya ke Singheunsa temple, saya lebih memilih foto – foto disini

 

tuh, bersih kan, ga ada sampah

Jam 09.55, kami sudah berada di antrian wahana cable car, untuk menikmati wahana ini anda cukup merogoh kocek sebesar 10.000 Won atau sekitar Rp 120.000. Cable car ini akan membawa kami menuju Gwongeumsung Fortress. Terdapat dua cable car, masing – masing cable car mampu menampung 50 orang.

cable car at mount seorak
Antrian di wahana cable car

Usai mengantri dengan tertib tibalah giliran rombongan kami menaiki cable car. Lalu terdengarlah intro dari sebuah lagu

I wanna know

Who ever told you I was letting go

The only joy that I have ever known

Girl, they were lying

Sontak, seisi cable car kompak menyanyikan lagu ini dan hilanglah perasaan takut akan ketinggian.

Tidak sampai 10 menit, kami telah tiba di Gwongeumsung Fortress.

Singheungsa temple dilihat dari cable car ketika menuju Gwongeumsung Fortress

Masha Allah, salju – salju yang tadi pagi saya lihat dari kejauhan kini ada tepat di depan mata. Salah satu impian saya pun terwujud hari itu.

Melihat salju pertama kalinya

Saya tidak berhenti sampai situ saja sebab masih ada tempat menarik lainnya yaitu Puncak Gunung Seorak. Dari Gwongeumsung Fortress sudah terdapat jalur setapak yang amat rapi dan nyaman guna memudahkan wisatawan menuju puncak gunung.

Hanya berjalan sekitar 10 menit, saya sudah tiba di puncak Gunung Seorak yang merupakan gunung tertinggi ketiga di Korea. Alhamdulillah, saya bersujud syukur kala itu, bagaimana tidak? Ini pertama kalinya saya keluar negeri, pertama kalinya “mendaki” gunung diluar Indonesia, pertama kalinya melihat putihnya salju, pertama kalinya mengunjungi taman nasional selain taman nasional yang ada di Indonesia. Di awal 2017 saya mengungkapkan keinginan untuk menjelajahi 12 taman nasional yang ada di Pulau Jawa, hingga saat ini memang baru satu aja yang terwujud yakni Taman Nasional Gunung Halimun Salak, namun yang lainnya sudah digantikan oleh Allah dengan memberi saya kesempatan mengunjungi Taman Nasional Seoraksa di Korea Selatan. Dan semuanya itu saya dapatkan dari hobi menulis, Masha Allah. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang kamu dustakan?

Baca juga : Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Rasanya ingin berlama – lama disini, namun kami sudah harus turun kembali menggunakan cable car. Sebelum keluar dari area Taman Nasional Seoraksan, saya sempatkan berfoto dengan patung beruang yang memiliki tanda seperti bulan sabit pada bagian dadanya yang merupakan patung ikonik disini.

Foto di depan patung ikonik di Seoraksan National Park

“ayo – ayo, kita lanjut lagi ke Everland” kata Alex, team leader kami kepada seluruh peserta. Dan dengan berat hati saya pun meninggalkan Seoraksan. Insha Allah, jika diberi kesempatan saya akan kembali lagi kesini, dengan orang terkasih tentunya. Saya akan mengeksplorenya lebih dalam lagi keindahan yang ada disini. Mungkinkah itu terwujud?

Please baca juga yang ini dong kaka Taman Nasional

About Author

client-photo-1
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

January 23, 2018
[…] Baca Juga : Seoraksan National Park  […]
July 10, 2019
[…] Baca juga : Dipeluk Dinginnya Gunung Seoraksan […]

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.