Trip Report Lebaran : Mudik Pulang Kampung Ke Padang Kota Tacinto
image of 1140x530

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba, setelah menjalani kewajiban ibadah puasa selama satu bulan lamanya, umat muslim diseluruh dunia akan merayakan hari kemenangan, Idhul Fitri. Di negeri ku Indonesia menjelang hari Idhul Fitri terdapat suatu tradisi yakni pulang ke kampung halaman dengan maksud berjumpa sanak keluarga handai taulan setelah satu tahun lamanya terkurung dalam penjara bernama rutinitas.

Orang – orang berlomba – lomba beranjak pergi keluar dari ibukota menempuh perjalanan jauh demi menghilangkan rasa rindu berjumpa keluarga. Macet di jalan, harga tiket yang tidak murah semuanya tak jadi masalah bagi mereka.

Pulang Basamo, tradisi bagi perantau Minang yang hendak pulang kampung bersama menuju Ranah Minang.
Pulang Basamo, tradisi bagi perantau Minang yang hendak pulang kampung bersama menuju Ranah Minang. Pada foto ini saya cuma mejeng aja, hehe..

Rekan – rekan kerja saya di kantor sudah mengajukan cuti sejak awal Juli. Bagaimana saya? Berbeda dengan yang lainnya saya lebih memilih bertahan di kantor hingga hari terakhir kerja. Saya memang sengaja melakukan ini agar waktu saya di kampung halaman lebih lama.

Sama seperti lebaran tahun lalu, saya akan menuju Kota Padang, tempat dimana ayah dan ibu saya berasal. Mudik kali ini terasa lebih spesial karena saya kesana bersama Garuda Indonesia. “Wah, pasti mahal ya, musim mudik gini ke Padang pakai Garuda lagi” begitu kata teman – teman. Namun, hal itu tak berlaku bagi saya karena untuk kali ini saya hanya bermodalkan Rp 215 ribu saja untuk mendapatkan tiket tersebut. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa karena saya melakukan redeem miles untuk ditukar menjadi tiket Jakarta – Padang. Bagaimana cara mendapatkan miles Garuda bisa kamu lihat disini.

Saya menuju Bandara Soekarno Hatta bersama abang Ian yang untuk tahun ini sayang sekali tidak bisa ikut mudik. Sesampainya di Terminal 2F, kami melihat suasana langit nampak murung, seperti menggambarkan kesedihan bahwa sebentar lagi Sang Tamu Agung akan kembali pergi dalam waktu lama. Semoga kelak kita akan dipertemukan kembali dengan Bulan Ramadhan di tahun depan. Aamiin.

Suasana langit di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta diakhir bulan Ramadhan 1437 H kala itu
Suasana langit di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta diakhir bulan Ramadhan 1437 H kala itu

Rekaman adzan khas Masjidil Haram terdengar dari balik pengeras suara pertanda telah memasuki waktu maghrib, kami pun membatalkan puasa kami disebuah restoran siap saji yang berada di Terminal 2F. Kemudian kami shalat bergantian untuk menjaga barang bawaan saya.

Usai shalat kami pun berpisah. Saya akan terbang menuju Ranah Minang, sedangkan Bang Ian kembali ke rumah kami di bilangan Kebon Jeruk.

30 menit sebelum keberangkatan para penumpang telah dipersilahkan untuk masuk ke dalam pesawat. Para pramugrari berparas cantik menyambut kami dengan senyum ramah serta mempersilahkan kami duduk sesuai dengan nomor bangku yang ada di boarding pass.

Suasana mudik ini memang luar biasa, macet tidak hanya terjadi di jalan darat namun juga di udara. Setidaknya butuh 30 menit bagi kapten pesawat kami untuk dapat take off meninggalkan daratan Jakarta.

1 jam 50 menit waktu yang dibutuhkan untuk tiba mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Nampak suasana di pintu kedatangan ramai oleh orang – orang yang menjemput saudaranya. Ramainya orang yang datang di BIM tak berbanding lurus dengan pendapatan sopir taksi bandara. Hal ini dikarenakan orang – orang sudah dijemput oleh keluarganya.

“dari siang tadi saya hanya baru mengantarkan dua orang saja” ujar Pak Masrul, sopir taksi yang membawa saya menuju rumah oma saya di Bariang Indah. Dari BIM menuju rumah oma sekitar 25 Km dan membutuhkan waktu 45 menit dengan argo yang harus dibayar antara Rp 90 – 120 ribu.

Akhirnya saya pun tiba, di depan halaman rumah sudah ada Oma beserta Mama, Etek yang telah tiba sehari sebelumnya. Ada juga rombongan Batam yakni Bang Teguh, Om Musi beserta keluarganya yang rela menempuh perjalanan lebih dari dua hari karena mereka mudik dari Batam menuju Padang menggunakan sepeda motor.

Saya pun segera beristirahat memulihkan tenaga karena esok pagi kami akan merayakan hari kemenangan.

Gema takbir terdengar dari seluruh penjuru Kota Padang malam itu.

Allaahu Akbar

Allaahu Akbar

 Allahu Akbar

 La illa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu Akbar walillaahil hamd

Kepada para pembaca jelajahsumbar.com kami segenap admin mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

About Author

client-photo-1
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

July 13, 2016
wah enak ya punya kampung halaman...
admin
July 19, 2016
Alhamdulillah, bisa ikutan mudik kayak orang - orang, hehe
July 13, 2016
Ondeh kampuang ambo tacinto. Sudah 1 tahun lebih saya tidak pulang kampung. Pos ini membuat darah menggelegak dan dada jadi berat karena membangkitkan rindu yang amat sangat ke sana :)
admin
July 19, 2016
Ondeh, ketemu lagi blogger yang sama - sama urang awak. Sekarang Kota Padang semakin cantik, ibu. Ayo ke Padang. :)

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.