Jelajah Sumbar 6 : Sawahlunto di Malam Hari

Acara pacu anjing selesai, para peserta telah meninggalkan area Lapangan Ombilin. Suasana yang tadinya riuh menjadi sepi. Sementara itu sebagian anak – anak masih bertahan disana, mereka bermain lari – larian, beradu siapa yang paling cepat.

Anak – anak bermain di Lapangan Ombilin

Baca juga : Serunya Acara Pacu Anjing Sawahlunto

Mendekati waktu maghrib, saya kembali ke hotel. Membersihkan diri setelah perjalanan yang cukup panjang dari Padang hingga Sawahlunto.

Maghrib baru saja usai, tiba – tiba hujan deras mengguyur Kota Sawahlunto. Rencana saya untuk menjelajahi Sawahlunto di malam hari tertunda.

Satu jam kemudian, hujan reda. Saya langsung memulai jalan – jalan yang hanya sekedar membunuh waktu, sebab sendirian di kamar itu sangat membosankan.

Sawahlunto di malam hari sangat sepi, keramaian hanya terasa di lapangan segitiga dan pasar. Selebihnya sepi. Apalagi jika telah melewati jam 8 malam.

Tak jauh dari hotel tempat saya menginap ada beberapa bangunan peninggalan Belanda diantaranya Gedung Societiet, gedung ini bangun tahun 1920, digunakan sebagai tempat para pejabat Belanda dan Eropa lainnya melepaskan lelah setelah beraktivitas. Sekarang gedung ini menjadi Pusat Kebudayaan Sawahlunto.

Societiet yang saat ini digunakan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

Beranjak dari Societiet, saya berjalan ke arah Lapangan Segitiga, disini ada gedung milik Bukit Asam. Nuansa Eropanya begitu terasa, gedung ini pastinya menjadi salah satu spot yang instagramable di Sawahlunto. Di malam hari gedung yang dicat warna orange (sekarang dicat putih) terlihat sangat cantik bermandikan cahaya lampu (lihat feature image)

Selanjutnya saya ke Masjid Nurul Iman Sawahlunto. Dulunya masjid ini merupakan PLTU yang dibangun kolonial Belanda. Bangunan masjid ini pun juga nampak cantik di malam hari. Menara yang dulunya merupakan cerobong asap diberi lampu LED berwarna hijau dan merah.

Masjid Nurul Iman Sawahlunto di malam hari

Penjelajahan saya berakhir di Puncak Cemara, dari sini saya bisa menyaksikan kelap – kelip Kota Sawahlunto dari ketinggian, sayangnya saya tidak membawa tripod sehingga tidak dapat memotret pemandangan Sawahlunto di malam hari dengan tajam.

Kota Sawahlunto di malam hari, dilihat dari Puncak Cemara

Puas mengelilingi Sawahlunto, saya kembali ke hotel untuk beristirahat. Besok pagi saya akan coba ke Puncak Polan, melihat Sawahlunto dari ketinggian lagi.

Bersambung : Puncak Polan

About Author

M. Catur Nugraha
M. Catur Nugraha
Masih bekerja sebagai Naval Architect Engineer di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi bangunan lepas pantai sejak tahun 2012. Kecintaan kepada kampung halamannya membuat ia memutuskan untuk mendirikan Jelajah Sumbar dengan tujuan memperkenalkan keindahan Bumi Ranah Minang ke khalayak ramai dan mengajaknya untuk berkunjung ke Sumbar. Ia sangat menyukai traveling. Perjalanan yang paling ia senangi antara lain mendaki gunung, trekking ke air terjun, dan berkemah di pulau – pulau kecil. Ia juga gemar menuliskan cerita perjalanannya dan memotret obyek yang ditemuinya. Cita – citanya : menjadikan Sumatera Barat dan Wisata Padang sebagai salah satu destinasi pilihan favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan Internasional.

Comments

Leave a Reply